Bahasanya udah kayak ahli perencana keuangan aja! Etapi ini berdasarkan pengalaman belajar 3,5 tahun menjadi Ibu looh, hehe… Bahwa setiap perempuan yang dianugrahi kesempatan memiliki anak juga memiliki kesempatan emas untuk melakukan sebuah investasi penting bagi masa deoan si buah hati juga bagi kehidupan sang ibu.
Jadi begini (beneran kebawa ama judul nih gayanya!),
Saat dalam kandungan, janin kecil akan tumbuh dengan menyerap apapun yang Ibunya makan. Zat-zat terbaik dalam setiap makanan sang ibu akan mengalir kedalam tubuhnya, perlahan membentuk setiap sel, hingga sempurna di usia 9 bulan.
Lalu ketika bayi lahir, Tuhan telah menyiapkan tubuh sang Ibu untuk memproduksi ASI dengan segala keajaibannya sebagai makanan tunggal di 6 bulan pertama kehidupan bayi mungil itu. Proses yang hampir mirip saat dalam kandungan, bayi akan menyerap apapun makanan ibu melalui ASI. Semakin baik dan seimbang nutrisi sang ibu, makan semakin baik dan seimbang juga nutrisi dalam tubuh bayi.
Sembilan bulan tambah 6 bulan, total 15 bulan, seorang manusia baru akan memakan makanan yang “dimasak” oleh tubuh ibunya. Bayangkan, 15 bulan! Bukan waktu yang sebentar. Dalam 15 bulan bayi mungil kita mendapat saripati terbaik dari alam bagi tubuhnya melalui tubuh ibu. Sebuah bekal yang tidak ternilai, yang akan menjadi pondasi kesehatannya di masa depan. Inilah masa investasi itu!
Dari hasil menelaah banyak sumber plus masukan kanan kiri yang tak pernah berhenti, saya mendapat pencerahan bahwa memberi makan seorang bayi, sejak dalam kandungan hingga ia balita, bukan sekedar memenuhi nutrisinya, tapi juga membentuk kebiasaan makannya yang akan dibawa hingga ia dewasa.
Kebiasaan makan adalah salah satu faktor terpenting yang menentukan kesehatan seseorang. Kebiasaan makan yang sehat sejak dini akan berpeluang besar menciptakan manusia sehat di kemudian hari.
Jika mendengar kata investasi, kesannya ada modal besar yang harus dikeluarkan bukan? Benar! tapi modal bukan selalu berarti uang looh, tapi juga bisa berupa waktu dan perhatian.
Dan sekali lagi, kalo mendengar kata investasi kesannya di masa depan aka nada keuntungan berlipat yang kita dapat, bukan? Ini juga benar! keuntungannya bukan pundi-pundi uang kita yang menggendut, tapi harta yang jauh lebih berharga: kesehatan.
Makanan dengan gizi seimbang, kesannya butuh modal gede ya untuk itu? Etapi, jangan salah makan makanan sehat bukan makanan mahal. Itu dua hal yang sangat berbeda dan tidak berhubungan sama sekali! (langsung berubah dari ahli keuangan jadi ahli gizi)
Makanan sehat adalah berasal dari bahan-bahan alami yang segar, diolah dengan dengan baik tanpa merusak kandungan gizinya, lalu dikonsumsi dengan cara yang benar, agar gizinya terjaga sampai tubuh bisa menyerapnya.
15 bulan yang penting ini diawali dari masa kehamilan ibu. Bukan hal mudah memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil. Apalagi di masa-masa awal kehamilan. Mual! Boro-boro makan yang bergizi, yang gak bergizi aja susah masuk! Hehehe..
Ujian menjadi ibu, memang di mulai sejak hari pertama kita mengandung. Bila nanti ketika anak sudah bisa makan makanan padat, kita akan disibukkan untuk memikirkan menu makannya, maka begitupun ketika hamil, kita juga (mestinya)sibuk memikirkan asupan gizi bagi sang jabang bayi.
Jangan menyerah pada mual, temukan cara agar kita bisa memasukkan makanan bergizi ke tubuh kita. Ketika kehilangan berat badan di bulan kedua kehamilan karena susah makan, saya diperingatkan keras oleh dokter. Ada seorang dokter yang saya kagumi, beliau bilang, langkah paling pertama untuk membentuk bayi yang sehat adalah sang Ibu harus bertekad sekuat mungkin untuk menjadi manusia yang sehat.
Begitupun dengan rasa bahagia. Anak yang bahagia adalah anak yang selalu merasa, melihat dan meyakini bahwa ibu yang mengandungnya, menyusuinya dan mengasuhnya penuh kasih adalah seorang ibu yang bahagia.
Dan, sekali lagi… sehat itu gak mahal kok! Obat memang mahal, makanya jangan sampe sakit. Mending sehat! Jauh lebih murah dari obat.
Buah, sayur dan air putih, adalah andalan saya untuk menjaga asupan gizi. Tidak mahal, paling tidak, pisang, papaya, semangka, bahkan buah kresen dari pohon depan rumahpun saya makan. Tempe tahu juga jadi andalan. Murah, mudah dan bergizi. Sayur lebih mudah lagi, rebus bayam, oyong, kangkung, wortel, labu dan sebagainya. Sesekali dijadikan cemilan dengan dicolek pada sambal.
Hasilnya, anak saya sekarang suka sekali buah-buahan, ngemil sayuran (tanpa sambal yah!), dan penggila tahu tempe dan kedelai rebus. Alhamdulillah daya tahan tubuhnya luar biasa, selain karena ASI selama 2,4 tahun, juga karena makannya yang jarang sekali bermasalah.
Pengalaman saya hamil dan menyusui juga mengurus makan anak saya secara langsung, benar-benar membuka mata saya akan pentingnya asupan selama 15 bulan pertama itu. Sebetulnya asupan di bulan-bulan berikutnya pun penting, selama anak kita masih menyusu. Tapi 15 bulan pertama itu,tubuh kita benar-benar menjadi penyedia tunggal asupan yang masuk ke tubuh sang bayi.
Keuntungan memperhatikan gizi selama 15 bulan itu bukan hanya dirasakan bayi, tapi juga kita sebagai ibu. Kita jelas lebih sehat, tapi selain itu, kita juga akan memiliki kebiasaan makan makanan sehat! Penelitian mengatakan perlu 3 bulan untuk membiasakan sebuah kebiaasaan baru dalam hidup. Kita punya 15 bulan untuk “dipaksa” hidup sehat dengan makan yang sehat. Tentunya kita aka nmenjadi pribadi baru yang lebih sehat. Sekaligus punya profesi baru sebagai ibu plus ahli gizi nomor satu di keluarga.
Dulu sebelum hamil, saya suka makan di luar dan kurang suka memasak di rumah. Tapi sekarang, makan di luar rasanya sangat mahal untuk sebuah makanan yang gizinya kurang terjamin, berapapun harga makan itu. Saya lebih baik goreng tempe tahu dan rebus bayam di rumah, lalu ngemil pepaya. Tetap nikmat, yang pasti, sehat!
Bertualang
Menjalani peran paling GILA sedunia; jadi Ibu.
Monday, March 12, 2012
Wednesday, April 20, 2011
Ngeblog aah…
Yuhuu.. long time not ngeblog
Kebanyakan objekan nulis, jadi lupa ama blog.. alesaaaan!
Hampir tengah malam, dengan setumpuk pekerjaan..
Inilah malam2 saya beberapa bulan terakhir, mencoba mengurangi jam tidur demi keseimbangan hidup. Lho? Hehe..
Yup, saya perlu menulis, lebih tepatnya saya perlu ‘dipaksa’ menulis, di paksa pake duit, hahaha…! Dikiit ;p
Saya merasa perlu keseimbangan antara melakoni peran ibu rumah tangga dan penyaluran obsesi… menulislah satu2nya yang bisa saya lakukan. Bisa dkerjakan di rumah, ngantor sesekali dan duitnya lumayan, teteuup.. ;p
Tapi bukan berarti semuanya mudah, sangat tidak gampang kerja di rumah. Jauh lebih gampang kerja di kantor dengan jam kerja yang telah diatur.
Di rumah, satu2nya waktu yang bisa saya gunakan untuk nulis adalah saat anak tidur, selain itu.. hmm, dapet satu kalimat aja udah untung.
Tapi ini adalah pilihan yang saya buat. Komit untuk mengurus anak langsung, tapi juga ingin punya eksistensi diri (halah,seleb kali!). Jadi pilihan itu saya ubah,bukan anak atau kantor, tapi tidur atau kerja. Saya harus memangkas jam tidur saya untuk bekerja, bukan memangkas hak Nawla untuk mendapat perhatian saya sepanjang waktu.
Berat? Hohoho… sangat. Tapi hal yang sangat sulit, bila itu tidak membunuhmu, akan menguatkanmu, seperti kata suami saya tercinta
Saya mulai terbiasa, tidur 3 jam sehari dan mengurus Nawla sepanjang hari. Dan bolak-balik Jakarta-bogor-karawang. Karena bila terpaksa sesekali meninggalkan Nawla untuk rapat atau liputan,saya hanya bisa menitipkannya di nenek Krawang.
Capek? Ngantuk? Sangat. Tapi adakah cara yang lebih mudah? Tidak ada yang mudah untuk meraih cita-cita bukan?
Terkadang, saat di puncak lelah,saya hampir menyerah. Menerima projek 5 buku, dari 2 kantor plus nulis scenario memang bukan pilihan bijak bagi ibu2 rumah tangga ber-balita tanpa sisten rumah tangga dan pengasuh. Tapi saya ‘terlanjur’ menerima semua itu.. (maruk mungkin lebih tepatnya), yah harus dijalani. Dan tidak ada yang tidak selesai bila saya telah memulai. Itu sudah jd kelebihan plus kekurangan saya, hahaha…
Tak apalah, saya hanya bs berdoa semoga yang saya lakukan ini bukan sesuatu yang di luar batas, ngeri bila tergolong dalam kaum yang serakah. Komitmen saya untuk Nawla tidak berkurang sedikitpun, sambil pelan-pelan menata hidup saya kembali.toh, Nawla juga akan tumbuh jadi dewasa bukan? ada waktunya nanti saya bisa punya lebih banyak waktu, semoga…
Mari berkarya, wahai Ibu2!
Kebanyakan objekan nulis, jadi lupa ama blog.. alesaaaan!
Hampir tengah malam, dengan setumpuk pekerjaan..
Inilah malam2 saya beberapa bulan terakhir, mencoba mengurangi jam tidur demi keseimbangan hidup. Lho? Hehe..
Yup, saya perlu menulis, lebih tepatnya saya perlu ‘dipaksa’ menulis, di paksa pake duit, hahaha…! Dikiit ;p
Saya merasa perlu keseimbangan antara melakoni peran ibu rumah tangga dan penyaluran obsesi… menulislah satu2nya yang bisa saya lakukan. Bisa dkerjakan di rumah, ngantor sesekali dan duitnya lumayan, teteuup.. ;p
Tapi bukan berarti semuanya mudah, sangat tidak gampang kerja di rumah. Jauh lebih gampang kerja di kantor dengan jam kerja yang telah diatur.
Di rumah, satu2nya waktu yang bisa saya gunakan untuk nulis adalah saat anak tidur, selain itu.. hmm, dapet satu kalimat aja udah untung.
Tapi ini adalah pilihan yang saya buat. Komit untuk mengurus anak langsung, tapi juga ingin punya eksistensi diri (halah,seleb kali!). Jadi pilihan itu saya ubah,bukan anak atau kantor, tapi tidur atau kerja. Saya harus memangkas jam tidur saya untuk bekerja, bukan memangkas hak Nawla untuk mendapat perhatian saya sepanjang waktu.
Berat? Hohoho… sangat. Tapi hal yang sangat sulit, bila itu tidak membunuhmu, akan menguatkanmu, seperti kata suami saya tercinta
Saya mulai terbiasa, tidur 3 jam sehari dan mengurus Nawla sepanjang hari. Dan bolak-balik Jakarta-bogor-karawang. Karena bila terpaksa sesekali meninggalkan Nawla untuk rapat atau liputan,saya hanya bisa menitipkannya di nenek Krawang.
Capek? Ngantuk? Sangat. Tapi adakah cara yang lebih mudah? Tidak ada yang mudah untuk meraih cita-cita bukan?
Terkadang, saat di puncak lelah,saya hampir menyerah. Menerima projek 5 buku, dari 2 kantor plus nulis scenario memang bukan pilihan bijak bagi ibu2 rumah tangga ber-balita tanpa sisten rumah tangga dan pengasuh. Tapi saya ‘terlanjur’ menerima semua itu.. (maruk mungkin lebih tepatnya), yah harus dijalani. Dan tidak ada yang tidak selesai bila saya telah memulai. Itu sudah jd kelebihan plus kekurangan saya, hahaha…
Tak apalah, saya hanya bs berdoa semoga yang saya lakukan ini bukan sesuatu yang di luar batas, ngeri bila tergolong dalam kaum yang serakah. Komitmen saya untuk Nawla tidak berkurang sedikitpun, sambil pelan-pelan menata hidup saya kembali.toh, Nawla juga akan tumbuh jadi dewasa bukan? ada waktunya nanti saya bisa punya lebih banyak waktu, semoga…
Mari berkarya, wahai Ibu2!
Thursday, February 10, 2011
Fyuuh..! *seka jidat*
Ada saat lelah itu datang tanpa diduga.
Tiba2 kita menjadi mahluk paling menyebalkan di muka bumi.
Tak ada hebat-hebatnya.
Rasany aingin mati saja.
Lalu?
Matikah?
Bisa jadi, bila kita memilih bunuh diri.
Ah, tapi masa segawat itu kawan…
Tak ada satupun kesulitan dimuka bumi ini yang layak di tukar dengankekal abadi di neraka jahanam.
Setidaknya itu yang aku percaya,bahwa mati bunuh diri akan masuk neraka.
Jadi jangan sekali-kali mempraktekkan pikiran itu. Memikirkannya boleh-boleh saja, tapi hati-hati syaetan ada dimana2 untuk membantumu merealisasikannya dengan mudah.
Maka bila lelah datang, saat kita menjadi orang paling menyebalkan, tutup matamu. Selama yang kita mampu, bayangkan bahwa kegelapan itu adalah kematian. Bahwa kita tidak lagi dalam raga.. apa yang kita rasa? Ngeri?
Cepat-cepat buka kembali mata kita. Dan bernafaslah dengan lega bahwa kita masih diberi kesempatan hidup dengan ribuan detik di depan sana yang menyimpan jutaan kesempatan untuk kita memperbaiki diri.
Bila lelah itu masih saja tinggal, tidurlah. Tidurlah seakan-akan esok tidak ada yang menanti kita bangun. Tidurlah senikmat yang kita mampu… lupakan semua kawan, lupakan hidup ini.
Tapi sebelum tidur,berbincanglah sejenak pada yang Punya Hidup. Sampaikan bahwa kau teramat lelah untuk melanjutkan perjalanan dan perlu sedikit rehat. Mohonlah tidur yang paling nyenyak dalam hidupmu, dan mohonlah untuk membangunkanmu saat lelah itu telah hilang.
Satu yang akupercaya kawan, seperti aku percaya bunuh diriitu pasti masuk neraka, bahwa Tuhan lebih Pengertian di banding siapapun yang kita kenal.
Tiba2 kita menjadi mahluk paling menyebalkan di muka bumi.
Tak ada hebat-hebatnya.
Rasany aingin mati saja.
Lalu?
Matikah?
Bisa jadi, bila kita memilih bunuh diri.
Ah, tapi masa segawat itu kawan…
Tak ada satupun kesulitan dimuka bumi ini yang layak di tukar dengankekal abadi di neraka jahanam.
Setidaknya itu yang aku percaya,bahwa mati bunuh diri akan masuk neraka.
Jadi jangan sekali-kali mempraktekkan pikiran itu. Memikirkannya boleh-boleh saja, tapi hati-hati syaetan ada dimana2 untuk membantumu merealisasikannya dengan mudah.
Maka bila lelah datang, saat kita menjadi orang paling menyebalkan, tutup matamu. Selama yang kita mampu, bayangkan bahwa kegelapan itu adalah kematian. Bahwa kita tidak lagi dalam raga.. apa yang kita rasa? Ngeri?
Cepat-cepat buka kembali mata kita. Dan bernafaslah dengan lega bahwa kita masih diberi kesempatan hidup dengan ribuan detik di depan sana yang menyimpan jutaan kesempatan untuk kita memperbaiki diri.
Bila lelah itu masih saja tinggal, tidurlah. Tidurlah seakan-akan esok tidak ada yang menanti kita bangun. Tidurlah senikmat yang kita mampu… lupakan semua kawan, lupakan hidup ini.
Tapi sebelum tidur,berbincanglah sejenak pada yang Punya Hidup. Sampaikan bahwa kau teramat lelah untuk melanjutkan perjalanan dan perlu sedikit rehat. Mohonlah tidur yang paling nyenyak dalam hidupmu, dan mohonlah untuk membangunkanmu saat lelah itu telah hilang.
Satu yang akupercaya kawan, seperti aku percaya bunuh diriitu pasti masuk neraka, bahwa Tuhan lebih Pengertian di banding siapapun yang kita kenal.
Wednesday, February 9, 2011
Akhirnya, selesai sudah.. (menyapih part 2)
Alhamdulillah... fase menyapih dapat dilalui dengan baik.
Sudah lama pengen share soal ini, berhubung baru bisa konek internet ke laptop, jadi baru bisa sekarang.
Nawla berhasil disapih, tidak lama setelah saya memutuskan untuk berhenti memberinya ASI. Rewelnya paling hanya 2 hari, 2 malam, setelah itu Alamdulillah... hanya nangis sebentar2, lalu lupa dan main lagi.
Oke, begini ceritanya..
saya sudah berusaha menyapih Nawla sejak Nawla umur 24 bulan. Hanya, saya sendiri masih ragu, karena nawla tidak suka susu, saya jadi khawatir kalo Nawla gak ASi lagi, dapet asupan kalsium susu dari mana.. ditambah, saya menganggap Nawla bener2 ASIholic (ini beneran anggapan ibunya loh, pdhl gak bener sma sekali), saya merasa bakal sulit nih nyapihnya. terus begitu, sehingga proses penyapihan tidak pernah berjalan mulus. Seringkali pikiran menyapih datang disaat saya begitu "terbebani" oleh aktivitas menyusui, Nawla tuh bisa sepanjang tidur siang nyusu. Padahal di jam tidur siang itu seharusnya saya bisa melakukan aktivitas lain seperti beres-beres rumah, masak atau kerja (saya penulis freelance). Pernah saya pakai cara-cara penyapihan yang "kejam", misalny apakai pahit-pahit (saya pake kopi super pait!), eeh, malah gak sukses, cuma sekali aja Nawla gak mau, selanjutnya dia lap..(ck,ck,anak sekarang..).Hingga suatu malam, di tengah malam, usai sholat, dan nawla tidur nyenyak, saya terpikir untuk menyapihnya dengan serius malam itu juga. saya bertekad tidak akan memberi ASI lagi mulai malam ini. kebetulan itu malam weekend, saat suami ada di rumah (suami saya pulang hanya weekend), kehadirannya pasti akan sangat membantu proses penyapihan ini, seperti kata buku-buku.
lewat tengah malam, seperti biasa Nawla mulai gelisah tidurnya, mencari dada Ibunya. Bismillah, saya mulai penyapihan itu. Saya ada disampingnya, tapi saya sama sekali tidak menanggapi permintaannya. Dia mulai rewel, saya coba tahan sekuat tenaga. saya kasih pengertian bahwa sudah saatnya NAwla berenti nenen, tapi dia makin rewel. papanya sampai bangun, saya jelaskan saya mau mulai nyapih, dan kita sama-sama berusaha menenangkan Nawla. Tangisnya makin keras. saya sendiri sangat tidak kuat mendengar tangis anak kecil sebetulnya (ada trauma yang tidak bisa saya jelaskan disini). mendengar Nawla nangis rasanya seperti ada seribu pisau menusuk jantung. Apalagi tangisan hebat seperti malam itu.. tidak karuan rasanya. Buat saya perasaan di malam penyapihan itu 10 kali lebih sakit daripada melahirkan Nawla dengan induksi. tapi saya harus kuat, agar Nawla juga kuat. Sepanjang Nawla nangis, saya tidak berhenti doa. Jujur, hanya itu yang bisa saya lakukan. Dan saya percaya betul kekuatan doa. hampir 2 jam Nawla nangis, karena cape berhenti juga. Dia gak bisa tidur lagi, saya coba menenangkan diri saya juga, saya ajak dia main. jam 2 pagi. Dia mau, akhirnya kita main kreta2an. Saya yang seharian belum tidur, sangat ngantuk waktu itu. Tapi tidak mungkin saya tidur. sampai jam 3, Nawla baru mau naik tempat tidur lagi.
Saya sudah tidak kuat nahan ngantuk, sementara Nawla masih melek di tempat tidur, dan mulai gelisah lagi. Ingin rasanya saya susuin aja dan batalkan penyapihan agar kami berdua bisa tidur, tapi itu artinya penyapihan tidak pernah dimulai. dan tidak ada yang bisa saya lakukan selain terus membujuknya untuk tidak nyusu lagi dan doa gak berenti. Saya benar-benar pasrah pada Allah saat itu. Buat saya, ASI adalah pemberian Allah untuk Nawla dan hanya Dialah yang mampu menghentikan semua itu. Nawla mulai tenang, gak lama bisa tidur lagi. Alhamdulillah...
Tapi itu tidak lama, jam setengah 5 nawla mulai gelisah lagi, lalu rewel lagi. Akhirnya saya juga bangun. saya ajak main lagi, meski masih nangis, tapi dia mau saya ajak main, saya sediakan biskuit, roti, susu, teh, agar dia bisa milih dan lupa pada "nyusu". Nawla makan bbrp biskuit dan teh. Dalam keadaan tenang, saya puji nawla yang pinter semaleman gak nyusu Ibu. saya juga jelaskan lagi kalau Nawla sudah besar, lalu saya jak sholat subuh, kita doa bersama (doa saya paling khusuk kayaknya,hehe..), mohon dikuatkan sama Allah, bila ini waktunya Nawla selesai minum ASI, semoga Nawla selalu disehatkan sepanjang hidup, menjadi anak yang tumbuh dengan baik, mandiri dan kuat. Gak lupa, sambil doa saya peluk Nawla erat, agar nawla juga meyakini doa ini. begitu sampai matahari terbit.. Dan itulah saat paling romantis antara Saya, Nawla dan Tuhan. Dan kekuatan doa itu mulai terlihat, saya yang kurang tidur merasa cukup segar untuk memulai hari itu, Nawla juga tampak tenang dan ceria.
Tiba saat jam nyusu siang, dada saya mulai sakit karena bengkak tidak menyusui. Nawla mulai gelisah lagi dan minta nyusu, saya bilang dada ibu sakit, jangan nyusu yah, saya juga pakai semacam plester utnuk menangani rembesan ASI. Ajaib, Nawla ngerti aja liat kondisi saya itu, tanpa rewel sedikitpun. Mungkin juga karena kondisinya sianga hari kali ya? tapi seharian itu otomatis dia tidak tidur siang.
Malamnya, menjelang tidur, dia rewel lagi, saya terus ngeasih pengertian dan gendong dia, saya coba ngelonin dengan digendong kayak bayi, hampir sejam, baru bisa tidur di gendongan saya. Pegal sih, tapi mungkin emang harus begini. sepanjang menggendong, saya nyayiin lagu pengantar tidurnya, sholawat, surat2 pendek Alquran sampai dzikir.. gak lupa terus sdoa dalam hati. Sampai akhirnya dia bisa tidur.
tengah malam gelisah lagi, tapi tidak sampai bangun dan main, saya kelonin lagi pakai lagu dan dzikir, lalu tidur lagi. tak lama, gelisah lagi, hampir sejam sekali gelisah, dan saya kelonin lagi dengan cara yang sama. Hingga subuh...
Praktis, 2 malam saya sangat kurang tidur. lemas sekali, tapi tetap bisa segar,alhamdulillah.. Paginya nawla gak rewel, malah sarapan dengan lahap. Siangnya saat dia ingin nyusu, dia seperti tiba-tiba teringat dan bertanya pada saya, "nenen ibu masih sakit?" saya terharu dengernya, dan memang masih sangat bengkak, saya bilang iya, masih sakit. Nawlapun gak jadi nyusu, dan kehidupanpun berlanjut..:)
Malam ketiga, rewelnya mulai berkurang, dia masih nyari dada ibu, tapi begitu pipinya nempel di dekat jantung saya, dia tenang lagi. dan begitulah malam2 selanjutnya, cukup dengan menempelkan pipi di dekat jantung, dia mulai tenang. kami menyebutnya "nenen peluk" ;)
Hanya 2 malam dengan rewel hebat, selanjutnya hanya gelisah-gelisah tapi tidak sampai nangis. sampai sekarang, tiap malam Nawla masih sering lilir nyari nenen peluk. Juga di saat siang kalo rewel atau gak enak badan, mintanya nenen peluk, sama sekali gak minta nyusu lagi. Setelah 2 malam penuh perjuangan itu juga, bengkak saya mulai berkurang. Keberadaan Papanya jug asangat memabntu, ada yang membantu saya mengajak main NAwla di siang hari dan bantu doa juga pastinya. yah,pada akhirnya, ini memang waktunya. Waktu penyapih telah datang.
Nawla baik sekali, tidak terlalu sulit ternyata menyapihnya. Tapi yang membuat semua terasa mudah adalah, penyerahan kita pada Tuhan. Jujur, buat saya penyapihan ini proses yang luar biasa, seperti halnya melahirkan. Menyapih berarti melepas Nawla menuju dunianya yang sesungguhnya, tidak lagi ada yang mengalir di tubuh saya yang menjadi hak Nawla.. Nawla dilepas, menuju takdirnya sendiri. Berat, berat sekali pelepasan ini, tapi ini harus terjadi. Seperti halnya orang tua yang melepas anak untuk menikah... berat, tapi itu proses hidup yang harus dilalui, takdir yang harus dijalani. Oleh karena itu, doa saya makin kenceng, setiap saat... Ya Allah, mudahkanlah semua ini untuk kami, semoga dapat dilalui dengan baik dan indah.Dan tidak ada tempat untuk saya berharap dan meminta KEBAIKAN bagi Nawla selain pada Penciptanya.
Nawla disapih umur 28 bulan, dan sekarang pas 30 bulan (2,5thn), Alhamdulillah sehat..:)Nawla sudah tumbuh besar, menjadi anak pintar.. rasanya ingin menangis setiap menatap NAwla tidur, melihat anak yang saya rawat dengan tangan saya langsung selama 30 bulan ini... mengharukan. menjadi Ibu adalah menjadi terharu sepanjang waktu, memang.. Ah, jadi makin melow!
Buat Ibu-ibu lainnya, semua memang tidak semudah yang saya tulis disini. Pasti ada yang merasa sangat sulit menyapih seperti yang pernah saya alami. Tapi ketika waktu yang kita rasa tepat, dan memang anak sudah cukup kuat, tanpa kita mencoba mengkorupsi haknya, mulailah, Bismillah. Akan berat, tapi mungkin saja bisa lebih mudah dari yang kita kira, yang pasti semua harus dimulai dan dilalui. tenang saja, kita ibunya, kita telah menyusuinya beratus-ratus hari, anak kita akan kuat, jika kita kuat. Dan tetap tunjukkan betapa kita mencintainya, selalu, sepanjang waktu dan pelukan kita akan terus terbuka untuknya. Dan jangan lupa, doa,doa,doa...:)
Menjadi orang tua adalah berdoa tanpa jeda.
Semoga Allah memberkahi anak-naka kita, selalu..amin. :)
Sudah lama pengen share soal ini, berhubung baru bisa konek internet ke laptop, jadi baru bisa sekarang.
Nawla berhasil disapih, tidak lama setelah saya memutuskan untuk berhenti memberinya ASI. Rewelnya paling hanya 2 hari, 2 malam, setelah itu Alamdulillah... hanya nangis sebentar2, lalu lupa dan main lagi.
Oke, begini ceritanya..
saya sudah berusaha menyapih Nawla sejak Nawla umur 24 bulan. Hanya, saya sendiri masih ragu, karena nawla tidak suka susu, saya jadi khawatir kalo Nawla gak ASi lagi, dapet asupan kalsium susu dari mana.. ditambah, saya menganggap Nawla bener2 ASIholic (ini beneran anggapan ibunya loh, pdhl gak bener sma sekali), saya merasa bakal sulit nih nyapihnya. terus begitu, sehingga proses penyapihan tidak pernah berjalan mulus. Seringkali pikiran menyapih datang disaat saya begitu "terbebani" oleh aktivitas menyusui, Nawla tuh bisa sepanjang tidur siang nyusu. Padahal di jam tidur siang itu seharusnya saya bisa melakukan aktivitas lain seperti beres-beres rumah, masak atau kerja (saya penulis freelance). Pernah saya pakai cara-cara penyapihan yang "kejam", misalny apakai pahit-pahit (saya pake kopi super pait!), eeh, malah gak sukses, cuma sekali aja Nawla gak mau, selanjutnya dia lap..(ck,ck,anak sekarang..).Hingga suatu malam, di tengah malam, usai sholat, dan nawla tidur nyenyak, saya terpikir untuk menyapihnya dengan serius malam itu juga. saya bertekad tidak akan memberi ASI lagi mulai malam ini. kebetulan itu malam weekend, saat suami ada di rumah (suami saya pulang hanya weekend), kehadirannya pasti akan sangat membantu proses penyapihan ini, seperti kata buku-buku.
lewat tengah malam, seperti biasa Nawla mulai gelisah tidurnya, mencari dada Ibunya. Bismillah, saya mulai penyapihan itu. Saya ada disampingnya, tapi saya sama sekali tidak menanggapi permintaannya. Dia mulai rewel, saya coba tahan sekuat tenaga. saya kasih pengertian bahwa sudah saatnya NAwla berenti nenen, tapi dia makin rewel. papanya sampai bangun, saya jelaskan saya mau mulai nyapih, dan kita sama-sama berusaha menenangkan Nawla. Tangisnya makin keras. saya sendiri sangat tidak kuat mendengar tangis anak kecil sebetulnya (ada trauma yang tidak bisa saya jelaskan disini). mendengar Nawla nangis rasanya seperti ada seribu pisau menusuk jantung. Apalagi tangisan hebat seperti malam itu.. tidak karuan rasanya. Buat saya perasaan di malam penyapihan itu 10 kali lebih sakit daripada melahirkan Nawla dengan induksi. tapi saya harus kuat, agar Nawla juga kuat. Sepanjang Nawla nangis, saya tidak berhenti doa. Jujur, hanya itu yang bisa saya lakukan. Dan saya percaya betul kekuatan doa. hampir 2 jam Nawla nangis, karena cape berhenti juga. Dia gak bisa tidur lagi, saya coba menenangkan diri saya juga, saya ajak dia main. jam 2 pagi. Dia mau, akhirnya kita main kreta2an. Saya yang seharian belum tidur, sangat ngantuk waktu itu. Tapi tidak mungkin saya tidur. sampai jam 3, Nawla baru mau naik tempat tidur lagi.
Saya sudah tidak kuat nahan ngantuk, sementara Nawla masih melek di tempat tidur, dan mulai gelisah lagi. Ingin rasanya saya susuin aja dan batalkan penyapihan agar kami berdua bisa tidur, tapi itu artinya penyapihan tidak pernah dimulai. dan tidak ada yang bisa saya lakukan selain terus membujuknya untuk tidak nyusu lagi dan doa gak berenti. Saya benar-benar pasrah pada Allah saat itu. Buat saya, ASI adalah pemberian Allah untuk Nawla dan hanya Dialah yang mampu menghentikan semua itu. Nawla mulai tenang, gak lama bisa tidur lagi. Alhamdulillah...
Tapi itu tidak lama, jam setengah 5 nawla mulai gelisah lagi, lalu rewel lagi. Akhirnya saya juga bangun. saya ajak main lagi, meski masih nangis, tapi dia mau saya ajak main, saya sediakan biskuit, roti, susu, teh, agar dia bisa milih dan lupa pada "nyusu". Nawla makan bbrp biskuit dan teh. Dalam keadaan tenang, saya puji nawla yang pinter semaleman gak nyusu Ibu. saya juga jelaskan lagi kalau Nawla sudah besar, lalu saya jak sholat subuh, kita doa bersama (doa saya paling khusuk kayaknya,hehe..), mohon dikuatkan sama Allah, bila ini waktunya Nawla selesai minum ASI, semoga Nawla selalu disehatkan sepanjang hidup, menjadi anak yang tumbuh dengan baik, mandiri dan kuat. Gak lupa, sambil doa saya peluk Nawla erat, agar nawla juga meyakini doa ini. begitu sampai matahari terbit.. Dan itulah saat paling romantis antara Saya, Nawla dan Tuhan. Dan kekuatan doa itu mulai terlihat, saya yang kurang tidur merasa cukup segar untuk memulai hari itu, Nawla juga tampak tenang dan ceria.
Tiba saat jam nyusu siang, dada saya mulai sakit karena bengkak tidak menyusui. Nawla mulai gelisah lagi dan minta nyusu, saya bilang dada ibu sakit, jangan nyusu yah, saya juga pakai semacam plester utnuk menangani rembesan ASI. Ajaib, Nawla ngerti aja liat kondisi saya itu, tanpa rewel sedikitpun. Mungkin juga karena kondisinya sianga hari kali ya? tapi seharian itu otomatis dia tidak tidur siang.
Malamnya, menjelang tidur, dia rewel lagi, saya terus ngeasih pengertian dan gendong dia, saya coba ngelonin dengan digendong kayak bayi, hampir sejam, baru bisa tidur di gendongan saya. Pegal sih, tapi mungkin emang harus begini. sepanjang menggendong, saya nyayiin lagu pengantar tidurnya, sholawat, surat2 pendek Alquran sampai dzikir.. gak lupa terus sdoa dalam hati. Sampai akhirnya dia bisa tidur.
tengah malam gelisah lagi, tapi tidak sampai bangun dan main, saya kelonin lagi pakai lagu dan dzikir, lalu tidur lagi. tak lama, gelisah lagi, hampir sejam sekali gelisah, dan saya kelonin lagi dengan cara yang sama. Hingga subuh...
Praktis, 2 malam saya sangat kurang tidur. lemas sekali, tapi tetap bisa segar,alhamdulillah.. Paginya nawla gak rewel, malah sarapan dengan lahap. Siangnya saat dia ingin nyusu, dia seperti tiba-tiba teringat dan bertanya pada saya, "nenen ibu masih sakit?" saya terharu dengernya, dan memang masih sangat bengkak, saya bilang iya, masih sakit. Nawlapun gak jadi nyusu, dan kehidupanpun berlanjut..:)
Malam ketiga, rewelnya mulai berkurang, dia masih nyari dada ibu, tapi begitu pipinya nempel di dekat jantung saya, dia tenang lagi. dan begitulah malam2 selanjutnya, cukup dengan menempelkan pipi di dekat jantung, dia mulai tenang. kami menyebutnya "nenen peluk" ;)
Hanya 2 malam dengan rewel hebat, selanjutnya hanya gelisah-gelisah tapi tidak sampai nangis. sampai sekarang, tiap malam Nawla masih sering lilir nyari nenen peluk. Juga di saat siang kalo rewel atau gak enak badan, mintanya nenen peluk, sama sekali gak minta nyusu lagi. Setelah 2 malam penuh perjuangan itu juga, bengkak saya mulai berkurang. Keberadaan Papanya jug asangat memabntu, ada yang membantu saya mengajak main NAwla di siang hari dan bantu doa juga pastinya. yah,pada akhirnya, ini memang waktunya. Waktu penyapih telah datang.
Nawla baik sekali, tidak terlalu sulit ternyata menyapihnya. Tapi yang membuat semua terasa mudah adalah, penyerahan kita pada Tuhan. Jujur, buat saya penyapihan ini proses yang luar biasa, seperti halnya melahirkan. Menyapih berarti melepas Nawla menuju dunianya yang sesungguhnya, tidak lagi ada yang mengalir di tubuh saya yang menjadi hak Nawla.. Nawla dilepas, menuju takdirnya sendiri. Berat, berat sekali pelepasan ini, tapi ini harus terjadi. Seperti halnya orang tua yang melepas anak untuk menikah... berat, tapi itu proses hidup yang harus dilalui, takdir yang harus dijalani. Oleh karena itu, doa saya makin kenceng, setiap saat... Ya Allah, mudahkanlah semua ini untuk kami, semoga dapat dilalui dengan baik dan indah.Dan tidak ada tempat untuk saya berharap dan meminta KEBAIKAN bagi Nawla selain pada Penciptanya.
Nawla disapih umur 28 bulan, dan sekarang pas 30 bulan (2,5thn), Alhamdulillah sehat..:)Nawla sudah tumbuh besar, menjadi anak pintar.. rasanya ingin menangis setiap menatap NAwla tidur, melihat anak yang saya rawat dengan tangan saya langsung selama 30 bulan ini... mengharukan. menjadi Ibu adalah menjadi terharu sepanjang waktu, memang.. Ah, jadi makin melow!
Buat Ibu-ibu lainnya, semua memang tidak semudah yang saya tulis disini. Pasti ada yang merasa sangat sulit menyapih seperti yang pernah saya alami. Tapi ketika waktu yang kita rasa tepat, dan memang anak sudah cukup kuat, tanpa kita mencoba mengkorupsi haknya, mulailah, Bismillah. Akan berat, tapi mungkin saja bisa lebih mudah dari yang kita kira, yang pasti semua harus dimulai dan dilalui. tenang saja, kita ibunya, kita telah menyusuinya beratus-ratus hari, anak kita akan kuat, jika kita kuat. Dan tetap tunjukkan betapa kita mencintainya, selalu, sepanjang waktu dan pelukan kita akan terus terbuka untuknya. Dan jangan lupa, doa,doa,doa...:)
Menjadi orang tua adalah berdoa tanpa jeda.
Semoga Allah memberkahi anak-naka kita, selalu..amin. :)
Monday, December 13, 2010
Menyapih
jeng,jeng.. judulnya emak-emak banget yah?
akhirnya, sampai juga pada keyakinan untuk menyapih Nawla.
Sebenernya udah terpikirkan sejak NAwla 2 tahun, tapi masih ragu2, kasian, karena Nawla nyusunya mash kenceng. Saya berprinsip untuk menyapih dengan kasih (weaning with love) artinya, meminimalisir pengalaman tidak baik saat penyapihan. Udah cape2 ngabangun bonding yang luar bisa anatar Ibu dan anka selama 2 tahun lebih, masa harus cacat karena proses penyapihan yang kurang mulus.
Ada yang mengusulkan di pisah beberapa hari antara Ibu dan anak, weits.. saya paling ogah dengan saran itu. Itu sih nyiksa namanya..
Ada yang menyarankan kasih yang pahit2, hmm.. pernah saya coba, kasih kopi pahit, dan suskses Nawla gak mau nyusu, tapi itu sementara, dia ttp minta, masa saya harus ngolesin kopi setiap saat, repot juga.. dan akhirnya Nawla bahkan tidak peduli pada rasa phit itu, ttp aja nyusu!
pernah juga kasih yang bau2 kayak minyak tawon ato kayuputih, tetep gak bikin NAwla kapok nyusu.. malah dia makin jag ngakalin.
Bagaimana yaa..?
Doa aja deh.. hehe
akhirnya, sampai juga pada keyakinan untuk menyapih Nawla.
Sebenernya udah terpikirkan sejak NAwla 2 tahun, tapi masih ragu2, kasian, karena Nawla nyusunya mash kenceng. Saya berprinsip untuk menyapih dengan kasih (weaning with love) artinya, meminimalisir pengalaman tidak baik saat penyapihan. Udah cape2 ngabangun bonding yang luar bisa anatar Ibu dan anka selama 2 tahun lebih, masa harus cacat karena proses penyapihan yang kurang mulus.
Ada yang mengusulkan di pisah beberapa hari antara Ibu dan anak, weits.. saya paling ogah dengan saran itu. Itu sih nyiksa namanya..
Ada yang menyarankan kasih yang pahit2, hmm.. pernah saya coba, kasih kopi pahit, dan suskses Nawla gak mau nyusu, tapi itu sementara, dia ttp minta, masa saya harus ngolesin kopi setiap saat, repot juga.. dan akhirnya Nawla bahkan tidak peduli pada rasa phit itu, ttp aja nyusu!
pernah juga kasih yang bau2 kayak minyak tawon ato kayuputih, tetep gak bikin NAwla kapok nyusu.. malah dia makin jag ngakalin.
Bagaimana yaa..?
Doa aja deh.. hehe
Monday, September 27, 2010
Ke Negeri Seberang
Ku dengar ia tengah ada di sebuah negeri nun jauh
Ku kira ia tengah di pondok mungilnya di tepi sungai
Rupanya tidak, ia terbang lagi, seperti yang pernah ia lakukan
Namun kali ini ia berjanji tidak lama akan kembali pulang
ke pondok mungilnya, ke tepi sungainya
Ia terbang ke negeri seberang, katanya untuk belajar menulis
Bukan untuk menuntaskan dahaganya ttg Newton, Einstein, ataupun Adam Smith
Apa yang tengah ia perbuat?
Aku bertanya-tanya, heran dibuatnya
Kau sudah pandai menulis,kawan... sangat pandai bahkan.
Mengapa kau harus belajar menulis ke negeri asing itu?
Bukankah kau bilang tanahmulah harta karun inspirasi itu?
tanahmulah pembuka seluruh lakon tulisanmu?
Apa yang akan kau pelajari di negeri asing itu?
Apa ilmunya bisa kau pakai untuk lebih mengenal tanah inspirasimu?
Kau berharap,sepulang dari sana kau bisa menulis lebih baik
Kawan, aku membutuhkan isi hatimu, bukan teknik menulismu
Ku harap kau dapat pelajaran soal hati, soal menulis dengan hati
itu lebih baik, sangat lebih baik kawanku
Ah, tau apalah aku ini
Soal tulis menulis, butalah aku ini
Tentu kau berjuta lebih mengerti ketimbang aku
Toh, karena kau berkelanan ribuan hari di negeri baratlah
Kau bisa mengeluarkan isi hatimu dan mempersembahkannya bagi kami
yah, semoga petualanganmu saat ini juga memberi energi baru
untuk menggali lebih dalam tanah harta karun inspirasimu
semoga kau lekas pulang, lekas menemui sungaimu
lekas kembali ke pondok mungilmu dan mulailah menyusun kata demi kata harta karun itu
Aku menunggumu, kawan, selalu menunggumu
bagiku kini, menunggumu menjadi bagian yang menyenangkan dalam hidup
*juga, untuk pelayan warung kopi yang kini tengah belajar menulis di negeri bernama Amerika
Ku kira ia tengah di pondok mungilnya di tepi sungai
Rupanya tidak, ia terbang lagi, seperti yang pernah ia lakukan
Namun kali ini ia berjanji tidak lama akan kembali pulang
ke pondok mungilnya, ke tepi sungainya
Ia terbang ke negeri seberang, katanya untuk belajar menulis
Bukan untuk menuntaskan dahaganya ttg Newton, Einstein, ataupun Adam Smith
Apa yang tengah ia perbuat?
Aku bertanya-tanya, heran dibuatnya
Kau sudah pandai menulis,kawan... sangat pandai bahkan.
Mengapa kau harus belajar menulis ke negeri asing itu?
Bukankah kau bilang tanahmulah harta karun inspirasi itu?
tanahmulah pembuka seluruh lakon tulisanmu?
Apa yang akan kau pelajari di negeri asing itu?
Apa ilmunya bisa kau pakai untuk lebih mengenal tanah inspirasimu?
Kau berharap,sepulang dari sana kau bisa menulis lebih baik
Kawan, aku membutuhkan isi hatimu, bukan teknik menulismu
Ku harap kau dapat pelajaran soal hati, soal menulis dengan hati
itu lebih baik, sangat lebih baik kawanku
Ah, tau apalah aku ini
Soal tulis menulis, butalah aku ini
Tentu kau berjuta lebih mengerti ketimbang aku
Toh, karena kau berkelanan ribuan hari di negeri baratlah
Kau bisa mengeluarkan isi hatimu dan mempersembahkannya bagi kami
yah, semoga petualanganmu saat ini juga memberi energi baru
untuk menggali lebih dalam tanah harta karun inspirasimu
semoga kau lekas pulang, lekas menemui sungaimu
lekas kembali ke pondok mungilmu dan mulailah menyusun kata demi kata harta karun itu
Aku menunggumu, kawan, selalu menunggumu
bagiku kini, menunggumu menjadi bagian yang menyenangkan dalam hidup
*juga, untuk pelayan warung kopi yang kini tengah belajar menulis di negeri bernama Amerika
Sunday, September 26, 2010
Seorang Kawan
Darinya aku mendapat sapaan hangat,
"Kawan..", begitu selalu di ujung kalimatnya.
Lantas dunia seperti berubah menjadi sendu,
Pelangi seperti terurai warnanya,
bergantian, mewarnai jiwaku.
Kusadari, betapa hati ini rindu, pada sapa itu.
"kawan.." Ah, indah nian.
Seperti akhirnya ku menemukannya, setelah panjang penantian.
Dia yang yang menyapaku kawan, akhirnya hadir.
"Kawan.." di ujung kalimatnya seperti mantra sihir,
menyihirku memasuki dunia kalimat demi kalimatnya...
Terbuai dengan elok bahasanya, dengan kisah-kisah ajaibnya.
aku merasa seperti Alice, yang mengikuti sang kelinci hingga ke Wonderland.
dan memang akhirnya sampai aku ke wonderland,
oh..tidak, ini lebih menakjubkan!
Dunianya sederhana, tapi punya berjuta cerita.
disana kita tertawa, terbahak, tersenyum, tersipu...
di sana kita seperti ribuan kali jatuh cinta...
bahagia... itu saja yang ada.
Dia ada, dia nyata... seseorang yang menyapaku kawan.
Terima kasih telah ada, kawan.
*untuk seorang pelayan warung kopi berambut ikal.
"Kawan..", begitu selalu di ujung kalimatnya.
Lantas dunia seperti berubah menjadi sendu,
Pelangi seperti terurai warnanya,
bergantian, mewarnai jiwaku.
Kusadari, betapa hati ini rindu, pada sapa itu.
"kawan.." Ah, indah nian.
Seperti akhirnya ku menemukannya, setelah panjang penantian.
Dia yang yang menyapaku kawan, akhirnya hadir.
"Kawan.." di ujung kalimatnya seperti mantra sihir,
menyihirku memasuki dunia kalimat demi kalimatnya...
Terbuai dengan elok bahasanya, dengan kisah-kisah ajaibnya.
aku merasa seperti Alice, yang mengikuti sang kelinci hingga ke Wonderland.
dan memang akhirnya sampai aku ke wonderland,
oh..tidak, ini lebih menakjubkan!
Dunianya sederhana, tapi punya berjuta cerita.
disana kita tertawa, terbahak, tersenyum, tersipu...
di sana kita seperti ribuan kali jatuh cinta...
bahagia... itu saja yang ada.
Dia ada, dia nyata... seseorang yang menyapaku kawan.
Terima kasih telah ada, kawan.
*untuk seorang pelayan warung kopi berambut ikal.
Subscribe to:
Posts (Atom)
