Pada kawan di ujun Savana,
Di bawah atap langit maha luas,
Yang menunggu di satu felicium yang sebatang kara,
Maukah kau kau tiupkan serbuk bunga rumputmu?
Sampaikan pada angin barat, untuk membawanya kepadaku di sini.
Dan pada langit maha luas, apakah ku bisa mencipta jiwa peri?
Hingga mengecil seluruh raga ini.
Agar bisa kunaiki serbuk bunga savana itu.
Untuk aku terbang.
Terbang ke barat.
Ke tempatmu, kawan.
Saturday, March 9, 2013
Thursday, March 7, 2013
A best friend
Kita pasti punya seorang kawan baik, bukan?
Setidaknya jika sekarang tidak, pasti pernah kan?
Menyenangkan sekali punya sahabat itu, bukan?
Dan menyenangkan sekali menjadi seorang sahabat.
Hampir semua bisa kita bagi. Sedih, senang, marah, kesal, mimpi, harapan, juga kopi, pulsa, duit pinjaman dadakan, bahkan kaos tidur.. Apapun.
Maka idealnya, sahabat terbaik adalah yang selalu ada di dekat kita. Kapanpun. Dekat dalam segala arti. Beruntunglah mereka yang bersahabat dengan pasangan hidupnya.
Tapi bersahabat, bukan berarti bahagia selamanya. Ada saat kita berselisih, berbeda pandangan, bahkan saling mengecewakan. Tapi kayakinan bahwa kita adalah sepasang sahabat baik, akan membawa kita kembali berkawan, menyelesaikan segala perseteruan yang terjadi dan kembali tersenyum bersama. Pada seorang sahabat, sesungguhnya tak ada hal yang cukup besar yang mampu menggoyahkan. Dengan seorang sahabat, apapun semestinya bisa berakhir dengan bahagia.
Ada kalanya kita yang lupa, lupa untuk ceria. Lupa untuk berbagi. Berbagi segala hal, sampai hal terkecil sekalipun. Lalu kebersamaan menjadi merenggang tanpa kita sadar. Semua jadi semu. Tapi jangan pernah terpikir itu sebuah akhir. Tak ada akhir bagi sebuah persahabatan. Seperti hubungan ibu dan anak, saya percaya bahwa hubungan antara sepasang sahabat baik sesungguhnya juga abadi. Mungkin semua hanyalah sekedar alfa. Sekedar lupa. Tentang hal-hal yang bisa dinikmati bersama. Pada keceriaan-keceriaan sederhana yang tanpa sengaja tertutupi oleh penatnya hidup.
Padamu, sahabat.
Maafkan untuk semua keceriaan yang mulai luntur.
Maafkan untuk semua cerita lucu yang aku lewatkan untuk diceritakan padamu.
Maafkan untuk senyum yang menjadi lebih jarang.
Percayalah, tertawa bersamamu adalah hal yang paling aku rindu di dunia ini.
Seperti pagi ini, yang terlewat begitu saja tanpa sebuah cerita apapun yang bisa mengumbar tawa membahana di bawah atap kita.
Mungkin sulit untuk membangun kembali semua keceriaan itu. Karena kita menumpuk terlalu banyak kegelisahan dan pikiran-pikiran tidak bahagia yang sebenarnya tidak perlu.
Tapi bisakah kita bangun kembali? Bila terlalu sulit untukmu, biar aku yang mulai. Bila leluconku tidak lagi terasa lucu, maukah kau cari yang lebih lucu? Dan kelak kita kembali punya rasa itu. Rasa yang membuat kita selalu tidak sabar untuk saling bercerita.
Bila masih saja terlalu penat hidup ini, maukah kita pergi bersama sebentar? Ke tempat yang lebih lapang. Tempat di mana kita bisa berteriak bersama. Tempat yang hanya dibatasi oleh langit yang sebenarnya tak punya tepi.
Bilapun mimpi kita tak lagi sama, jalan yang kita tempuh berbeda. Tapi bukan berarti kita harus menjauh bukan? Kau pernah bilang, itu bisa membuat kita punya lebih banyak cerita.
Untuk semua pikiran-pikiran berat, tumpahkanlah sedikit demi sedikit. Seperti kata Dumbledore, tentu saja semua itu ada dalam pikiran kita, tapi mengapa itu tidak berarti nyata? Itulah mengapa kegelisahan bisa terasa amat nyata terjadi. Jadi, mari pikirkan hal-hal yang membahagiakan, kawan! Dan semoga ada aku di dalamnya.
:)
Setidaknya jika sekarang tidak, pasti pernah kan?
Menyenangkan sekali punya sahabat itu, bukan?
Dan menyenangkan sekali menjadi seorang sahabat.
Hampir semua bisa kita bagi. Sedih, senang, marah, kesal, mimpi, harapan, juga kopi, pulsa, duit pinjaman dadakan, bahkan kaos tidur.. Apapun.
Maka idealnya, sahabat terbaik adalah yang selalu ada di dekat kita. Kapanpun. Dekat dalam segala arti. Beruntunglah mereka yang bersahabat dengan pasangan hidupnya.
Tapi bersahabat, bukan berarti bahagia selamanya. Ada saat kita berselisih, berbeda pandangan, bahkan saling mengecewakan. Tapi kayakinan bahwa kita adalah sepasang sahabat baik, akan membawa kita kembali berkawan, menyelesaikan segala perseteruan yang terjadi dan kembali tersenyum bersama. Pada seorang sahabat, sesungguhnya tak ada hal yang cukup besar yang mampu menggoyahkan. Dengan seorang sahabat, apapun semestinya bisa berakhir dengan bahagia.
Ada kalanya kita yang lupa, lupa untuk ceria. Lupa untuk berbagi. Berbagi segala hal, sampai hal terkecil sekalipun. Lalu kebersamaan menjadi merenggang tanpa kita sadar. Semua jadi semu. Tapi jangan pernah terpikir itu sebuah akhir. Tak ada akhir bagi sebuah persahabatan. Seperti hubungan ibu dan anak, saya percaya bahwa hubungan antara sepasang sahabat baik sesungguhnya juga abadi. Mungkin semua hanyalah sekedar alfa. Sekedar lupa. Tentang hal-hal yang bisa dinikmati bersama. Pada keceriaan-keceriaan sederhana yang tanpa sengaja tertutupi oleh penatnya hidup.
Padamu, sahabat.
Maafkan untuk semua keceriaan yang mulai luntur.
Maafkan untuk semua cerita lucu yang aku lewatkan untuk diceritakan padamu.
Maafkan untuk senyum yang menjadi lebih jarang.
Percayalah, tertawa bersamamu adalah hal yang paling aku rindu di dunia ini.
Seperti pagi ini, yang terlewat begitu saja tanpa sebuah cerita apapun yang bisa mengumbar tawa membahana di bawah atap kita.
Mungkin sulit untuk membangun kembali semua keceriaan itu. Karena kita menumpuk terlalu banyak kegelisahan dan pikiran-pikiran tidak bahagia yang sebenarnya tidak perlu.
Tapi bisakah kita bangun kembali? Bila terlalu sulit untukmu, biar aku yang mulai. Bila leluconku tidak lagi terasa lucu, maukah kau cari yang lebih lucu? Dan kelak kita kembali punya rasa itu. Rasa yang membuat kita selalu tidak sabar untuk saling bercerita.
Bila masih saja terlalu penat hidup ini, maukah kita pergi bersama sebentar? Ke tempat yang lebih lapang. Tempat di mana kita bisa berteriak bersama. Tempat yang hanya dibatasi oleh langit yang sebenarnya tak punya tepi.
Bilapun mimpi kita tak lagi sama, jalan yang kita tempuh berbeda. Tapi bukan berarti kita harus menjauh bukan? Kau pernah bilang, itu bisa membuat kita punya lebih banyak cerita.
Untuk semua pikiran-pikiran berat, tumpahkanlah sedikit demi sedikit. Seperti kata Dumbledore, tentu saja semua itu ada dalam pikiran kita, tapi mengapa itu tidak berarti nyata? Itulah mengapa kegelisahan bisa terasa amat nyata terjadi. Jadi, mari pikirkan hal-hal yang membahagiakan, kawan! Dan semoga ada aku di dalamnya.
:)
A brand new
Too many stories to tell, too lazy me.
Hehe...
Well, yeah.
Janji mau nulis ttg proses penulisan novel, gak jadi juga. Sampai niat itu melempem dengan sendirinya. Tapi... Ada hal lain yang sebenarnya lebih "seru" di luar pengalaman menulis novel pertama saya. Hal yang kemudian membuat janji menulis blog tentang novel pertama menjadi tak penting lagi.
Entah apa yang sebenarnya tengah dirangkai Tuhan untk saya. Tapi kepercayan penuh yang saya bangun padaNya sejauh ini selalu terbukti merupakan kekuatan terbesar saya dalam menghadapi segala sesuatu.
Dalam hitungan bulan, saya merasa telah bolak balik hidup selama berabad-abad. Ini bukan sesuatu yang menyenangkan. Sangat melelahkan malah. Tapi untuk semua hal yang berat itu, saya ingin mengucap syukur yang sebesar-besarnya, karena rasa percaya yang tetap setia berada dihati dan seluruh jiwa. Rasa percaya pada Tuhan. Pada Allah. Pada Sang pemilik semesta.
Seringkali, atau memang aturannya begitu, kekuatan hadir bertambah karena adanya sebuah penderitaan. Kemahiran yang meningkat tak akan muncul tanpa ujian. Mungkin itulah yang tengah terjadi. Selain karena sebagai hamba yang masih belia dalam hal taqwa dan ahli soal dosa, sehingga Allah perlu memberi saya pelajaran.
Sering saya terbangun di banyak pagi belakangan ini dengan pertanyaan yang sama. Mengapa saya masih bertahan? Sementara saya sadar sesadar sadarnya bahwa peluang untuk kembali jatuh dan sakit tetap terbuka lebar di hadapan saya jika saya masih berada di tempat yang sama. Karenanya, entah berapa kali saya ingin berontak lari, pergi sejauh-jauhnya dari hidup saya hari ini. Namun, selalu ada bagian yang menahan. Bagian yang mungkin cukup kecil sebagai suara hati, namun cukup kuat bersuara. Bagian yang setiap kali saya kembali menangis terpuruk, ia akan berkata, bukan saya yang harus pergi, tapi keegoisan, ketidaksabaran dan kemunafikan yang harus pergi. Bagian kecil itu juga bilang, untuk seluruh kepercayaan yang cukup besar pada Sang Maha Agung, apalagi yang perlu saya khawatirkan? Bersama-Nya, tidak ada yang terlalu sulit untuk kita lalui dalam hidup. Maka berserah, sambil berusaha bangkit adalah jalan yang tebaik.
Meski pada akhirnya pertarungan selalu dimenangkan oleh suara hati kecil itu. Tapi selalu menyisakan sebuah kelelahan yang luar biasa. Menangis itu melelahkan. Hati juga raga. Satu-satunya jalan adalah membangun lupa. Mengupayakan lupa. Pada semua yang pernah menyakiti. Pada semua rasa sakit. Pada semua yang menyebabkan kita terpuruk. Soal maaf, itu seribu kali lebih mudah dari melupakan.
Melewati sepanjang hari dengan segala prasangka, dan melewatkan malam hari dengan segala ketidakpuasan, sungguh tidak nyaman! Tapi mungkin inilah aturannya. Agar saya bisa lebih keras berusaha. Hidup tetap di depan mata, ia tak kan berpindah kemanapun.
Maka pada akhirnya, saya harus berdamai pada kenyataan. Dan menggenggam kepercayaan padaNya dengan sungguh-sngguh. Agar saya tidak lagi merasa hidup sendiri. Saya berjalan bersama-Nya. Dan itu jauh lebih luhur untuk terus saya perjuangkan..
Hehe...
Well, yeah.
Janji mau nulis ttg proses penulisan novel, gak jadi juga. Sampai niat itu melempem dengan sendirinya. Tapi... Ada hal lain yang sebenarnya lebih "seru" di luar pengalaman menulis novel pertama saya. Hal yang kemudian membuat janji menulis blog tentang novel pertama menjadi tak penting lagi.
Entah apa yang sebenarnya tengah dirangkai Tuhan untk saya. Tapi kepercayan penuh yang saya bangun padaNya sejauh ini selalu terbukti merupakan kekuatan terbesar saya dalam menghadapi segala sesuatu.
Dalam hitungan bulan, saya merasa telah bolak balik hidup selama berabad-abad. Ini bukan sesuatu yang menyenangkan. Sangat melelahkan malah. Tapi untuk semua hal yang berat itu, saya ingin mengucap syukur yang sebesar-besarnya, karena rasa percaya yang tetap setia berada dihati dan seluruh jiwa. Rasa percaya pada Tuhan. Pada Allah. Pada Sang pemilik semesta.
Seringkali, atau memang aturannya begitu, kekuatan hadir bertambah karena adanya sebuah penderitaan. Kemahiran yang meningkat tak akan muncul tanpa ujian. Mungkin itulah yang tengah terjadi. Selain karena sebagai hamba yang masih belia dalam hal taqwa dan ahli soal dosa, sehingga Allah perlu memberi saya pelajaran.
Sering saya terbangun di banyak pagi belakangan ini dengan pertanyaan yang sama. Mengapa saya masih bertahan? Sementara saya sadar sesadar sadarnya bahwa peluang untuk kembali jatuh dan sakit tetap terbuka lebar di hadapan saya jika saya masih berada di tempat yang sama. Karenanya, entah berapa kali saya ingin berontak lari, pergi sejauh-jauhnya dari hidup saya hari ini. Namun, selalu ada bagian yang menahan. Bagian yang mungkin cukup kecil sebagai suara hati, namun cukup kuat bersuara. Bagian yang setiap kali saya kembali menangis terpuruk, ia akan berkata, bukan saya yang harus pergi, tapi keegoisan, ketidaksabaran dan kemunafikan yang harus pergi. Bagian kecil itu juga bilang, untuk seluruh kepercayaan yang cukup besar pada Sang Maha Agung, apalagi yang perlu saya khawatirkan? Bersama-Nya, tidak ada yang terlalu sulit untuk kita lalui dalam hidup. Maka berserah, sambil berusaha bangkit adalah jalan yang tebaik.
Meski pada akhirnya pertarungan selalu dimenangkan oleh suara hati kecil itu. Tapi selalu menyisakan sebuah kelelahan yang luar biasa. Menangis itu melelahkan. Hati juga raga. Satu-satunya jalan adalah membangun lupa. Mengupayakan lupa. Pada semua yang pernah menyakiti. Pada semua rasa sakit. Pada semua yang menyebabkan kita terpuruk. Soal maaf, itu seribu kali lebih mudah dari melupakan.
Melewati sepanjang hari dengan segala prasangka, dan melewatkan malam hari dengan segala ketidakpuasan, sungguh tidak nyaman! Tapi mungkin inilah aturannya. Agar saya bisa lebih keras berusaha. Hidup tetap di depan mata, ia tak kan berpindah kemanapun.
Maka pada akhirnya, saya harus berdamai pada kenyataan. Dan menggenggam kepercayaan padaNya dengan sungguh-sngguh. Agar saya tidak lagi merasa hidup sendiri. Saya berjalan bersama-Nya. Dan itu jauh lebih luhur untuk terus saya perjuangkan..
Thursday, January 10, 2013
Menulis (Novel) Part 2
Pages are running...
Sudah berjalan di atas 100 halaman dalam 2 bulan. Lambat banget siiii...
Tapi yang penting bisa selamat. semoga, amin!
Pengen cerita banyak soal perjalanan bikin novel ini. mungkin perlu waktu yang lebih longgar. Kalo novelnya udah jadi kali ya?
Yang jelas, dibanding pengalaman menulis, proses ini lebih banyak memberikan pengalaman spiritual! Nah lo!
Iya, takjub banget dah! Sampe muntah2 tiba2 di tangah malam tanpa sebab. Hahaha, horor ya? padahal ini bukan novel horor.
Mungkin terbawa emosi tokoh yang emang lagi adegan feel down banget. Saya jadi ikutan muntah2. Tapi kalo emang begini resikonya bikin novel, sumprit dah saya gak akan pernah bikin novel sedih lagi!
hehehe...
Semoga nanti bisa cerita dengan lengkap. Yang jelas, ini pengelaman yang luar biasa....mendebarkan... halah!
Okaaaay, keep on runnin' fingers!
Sudah berjalan di atas 100 halaman dalam 2 bulan. Lambat banget siiii...
Tapi yang penting bisa selamat. semoga, amin!
Pengen cerita banyak soal perjalanan bikin novel ini. mungkin perlu waktu yang lebih longgar. Kalo novelnya udah jadi kali ya?
Yang jelas, dibanding pengalaman menulis, proses ini lebih banyak memberikan pengalaman spiritual! Nah lo!
Iya, takjub banget dah! Sampe muntah2 tiba2 di tangah malam tanpa sebab. Hahaha, horor ya? padahal ini bukan novel horor.
Mungkin terbawa emosi tokoh yang emang lagi adegan feel down banget. Saya jadi ikutan muntah2. Tapi kalo emang begini resikonya bikin novel, sumprit dah saya gak akan pernah bikin novel sedih lagi!
hehehe...
Semoga nanti bisa cerita dengan lengkap. Yang jelas, ini pengelaman yang luar biasa....mendebarkan... halah!
Okaaaay, keep on runnin' fingers!
Wednesday, December 12, 2012
Partner In life
Seminggu kemarin, total saya dan Nawla tepar bersama. Sakit yang sama, demam yang sama. Hanya berdua, karena suami sedang di puncak kesibukannya ngurus kantor dan kuliah. Frustasi, tentu saja. badan yang sakit di sekujur tubuh rasanya enak paling enak direbahin. tapi anak harus diurus jugs, rumah harus diberesin, belom lagi ngurus keperluan suami. Ada saat-saat sedih banget melalui semuanya sendiri. Saya bisa tiba-tiba nangis bila frutasi datang (apalgi barengan dengan datang bulan, hormon ancur leburlah pokoknya). Saat itu biasanya Nawla dengan tangannya yang sama-sama lemas dengan saya, akan mengelus-ngelus saya dengan lembut sekali. Nawla gak ikut nangis ketika saya nangis frustasi, dia berusaha tegar dan bilang, bahwa kita melalui semua ini berdua, bukan ibu sendiri. lalu frustasi menguap begitu saja. Moment yang emosional banget? melow banget? mungkin. tapi buat saya ini senyata puncak gunung fuji yang putih tertutup salju. moment ini sama indahnya.
Sehari sebelum saya sakit, saya nonton Life of Pi. Saya menikmati film itu dalam arti sebenarnya, karena gambar yang sangat menawan dari Ang Lee. mengenai isi cerita, jujur, saya baru merasa melengos, lega dan puas di satu kalimat menjelang akhir yang diucapkan oleh Pi Partel dewasa, "Ada 2 cerita, memiliki akhir yang sama tapi jalan yang berbeda, mana yang kau pilih?" dan si kawan asing memilih, yang ada harimaunya. Pi Partel tersenyum, "Itulah Tuhan" (mungkin gak persis begitu ya dialognya, saya lupa, tapi intinya itu).
Setelah nonton, lalu saya tiba-tiba terdampar pada situasi yang kurang lebih sama dengan Pi. Memang tidak sedramats itu sih. Tapi pengalaman sakit berdua Nawla membuat saya merasa seperti Pi dan Richard Parker. Si Richard Parker tentu saja Nawla. Saya memang lebih beruntung karena "macan Benggala" saya bukan karnivora yang bisa menyantap ibunya sendiri. Dalam hal ini, saya bicara soal Partner in Pain. Teman dalam kesedihan.
Seperti hal-nya Pi, awalnya saya merasa sendiri. Lalu Nawla berjuang menunjukkan eksistensinya pada saya, bahwa ini adalah perjalanan sakit milik berdua. Kami saling menyemangati dalam cara masing-masing. Ada saat-saat sayapun marah dan kesal pada Tuhan atas semuanya, seperti Pi berteriak di tangah samudra. Tapi Tuhan dengan santai menyodorkan seorang kawan. Lalu saya dengan bodoh dan daya tangkap yang lambat menerima kenyataan itu dengan pelan, menerima bahwa Nawla adalah "kawan" sekaligus "device" untuk saya agar bisa melalui segala kesulitan ini. Dan pada akhirnya kita bisa melalui sakit ini berdua, sembuh bareng dan tersenyum bersama.
Happy end :)
Intinya adalah: te-man. Kawan, rekan, partner. Kita bisa saja dihujani jutaan kesulitan dalam hidup, dengan kadar yang semakin berat. tapi selama kita punya teman untuk berbagi segalanya, tak ada yang cukup sulit untuk kita lalui. Teman bukan sekedar orang yang secara teknis memberikan bala bantuan pada kesulitan kita, tapi lebih kepada someone beyond, a spirit, ato apapun yang ketika kita ingin berpaling sedikit dari kesulitan pahit di depan kita, "a spirit" yang ada di samping kita akan memberikan senyum dukungannya. Itu saja, sesederhana itu seorang "Partner in Pain" bekerja. Dia hanya perlu "ada" dengan keberadaan yang bila kita tatap akan menyalurkan energi baru dengan cara yang tak pernah kita tahu. Jelas, di antara Partner in Pain bekerja sebuah kekuatan Maha Dasyat yang menjalin benang hubungan istimewa tak kasat mata; Dialah Tuhan. Itulah kenapa Jodoh jadi urusan Tuhan. Karena mereka yang telah ditakdirkan Tuhan bersama (Suami istri, ato ibu-anak ato ayah-anak atau anak-orang tua) adalah mereka yang telah diikat dengan benang istimewa tersebut. Mungkin begitulah Pi dan Richard Parker. Pi percaya betul, Tuhan bekerja dalam cerita mereka yang hebat itu.
Dalam agama yang saya anut, keberadaan Tuhan mampu dibuktikan oleh segala penciptaannya. Alam Semesta adalah bukti yang tak terbantahkan. Dan saya percaya itu. Tuhan adalah Dzat dibalik semua kehidupan ini, bahkan segala kehidupan diluar jangkauan akal kita. Tapi satu hal lagi yang membuat saya mempercayai keberadaan Tuhan adalah tentang "hubungan" antar mahluk yang saya bilang diatas. Setelah jadi istri dan ibu, saya selalu dibuat kagum pada perasaan yang begitu kuat terhadap suami dan anak. Jika bukan kekuatan yang sangat amat besar, siapa lagi yang bisa menciptakan perasaan sekuat ibu pada anaknya?
Kita kenal yang namanya Cinta. Saya termasuk pengagum berat perasaan itu. Tapi kali ini, Cinta membuat saya jauh jauh lebih kagum lagi pada Tuhan. How You create something named LOVE, God? itu mungkin salah satu pertanyaan dari jutaan pertanyaan di kepala yang ingin saya ajukan pada Tuhan kelak. Semoga bisa. Itu artinya saya harus menjadi Hamba-Nya yang baik dan kelak bisa berjumpa dengan-Nya.
For all the journey and thousand journeys forward, many many thank, Allah. Especially for the great partner in life, Nawla.
Enjoy the life, keep smile to God :)
12-12-12
(My Mother's birthday!!)
Sehari sebelum saya sakit, saya nonton Life of Pi. Saya menikmati film itu dalam arti sebenarnya, karena gambar yang sangat menawan dari Ang Lee. mengenai isi cerita, jujur, saya baru merasa melengos, lega dan puas di satu kalimat menjelang akhir yang diucapkan oleh Pi Partel dewasa, "Ada 2 cerita, memiliki akhir yang sama tapi jalan yang berbeda, mana yang kau pilih?" dan si kawan asing memilih, yang ada harimaunya. Pi Partel tersenyum, "Itulah Tuhan" (mungkin gak persis begitu ya dialognya, saya lupa, tapi intinya itu).
Setelah nonton, lalu saya tiba-tiba terdampar pada situasi yang kurang lebih sama dengan Pi. Memang tidak sedramats itu sih. Tapi pengalaman sakit berdua Nawla membuat saya merasa seperti Pi dan Richard Parker. Si Richard Parker tentu saja Nawla. Saya memang lebih beruntung karena "macan Benggala" saya bukan karnivora yang bisa menyantap ibunya sendiri. Dalam hal ini, saya bicara soal Partner in Pain. Teman dalam kesedihan.
Seperti hal-nya Pi, awalnya saya merasa sendiri. Lalu Nawla berjuang menunjukkan eksistensinya pada saya, bahwa ini adalah perjalanan sakit milik berdua. Kami saling menyemangati dalam cara masing-masing. Ada saat-saat sayapun marah dan kesal pada Tuhan atas semuanya, seperti Pi berteriak di tangah samudra. Tapi Tuhan dengan santai menyodorkan seorang kawan. Lalu saya dengan bodoh dan daya tangkap yang lambat menerima kenyataan itu dengan pelan, menerima bahwa Nawla adalah "kawan" sekaligus "device" untuk saya agar bisa melalui segala kesulitan ini. Dan pada akhirnya kita bisa melalui sakit ini berdua, sembuh bareng dan tersenyum bersama.
Happy end :)
Intinya adalah: te-man. Kawan, rekan, partner. Kita bisa saja dihujani jutaan kesulitan dalam hidup, dengan kadar yang semakin berat. tapi selama kita punya teman untuk berbagi segalanya, tak ada yang cukup sulit untuk kita lalui. Teman bukan sekedar orang yang secara teknis memberikan bala bantuan pada kesulitan kita, tapi lebih kepada someone beyond, a spirit, ato apapun yang ketika kita ingin berpaling sedikit dari kesulitan pahit di depan kita, "a spirit" yang ada di samping kita akan memberikan senyum dukungannya. Itu saja, sesederhana itu seorang "Partner in Pain" bekerja. Dia hanya perlu "ada" dengan keberadaan yang bila kita tatap akan menyalurkan energi baru dengan cara yang tak pernah kita tahu. Jelas, di antara Partner in Pain bekerja sebuah kekuatan Maha Dasyat yang menjalin benang hubungan istimewa tak kasat mata; Dialah Tuhan. Itulah kenapa Jodoh jadi urusan Tuhan. Karena mereka yang telah ditakdirkan Tuhan bersama (Suami istri, ato ibu-anak ato ayah-anak atau anak-orang tua) adalah mereka yang telah diikat dengan benang istimewa tersebut. Mungkin begitulah Pi dan Richard Parker. Pi percaya betul, Tuhan bekerja dalam cerita mereka yang hebat itu.
Dalam agama yang saya anut, keberadaan Tuhan mampu dibuktikan oleh segala penciptaannya. Alam Semesta adalah bukti yang tak terbantahkan. Dan saya percaya itu. Tuhan adalah Dzat dibalik semua kehidupan ini, bahkan segala kehidupan diluar jangkauan akal kita. Tapi satu hal lagi yang membuat saya mempercayai keberadaan Tuhan adalah tentang "hubungan" antar mahluk yang saya bilang diatas. Setelah jadi istri dan ibu, saya selalu dibuat kagum pada perasaan yang begitu kuat terhadap suami dan anak. Jika bukan kekuatan yang sangat amat besar, siapa lagi yang bisa menciptakan perasaan sekuat ibu pada anaknya?
Kita kenal yang namanya Cinta. Saya termasuk pengagum berat perasaan itu. Tapi kali ini, Cinta membuat saya jauh jauh lebih kagum lagi pada Tuhan. How You create something named LOVE, God? itu mungkin salah satu pertanyaan dari jutaan pertanyaan di kepala yang ingin saya ajukan pada Tuhan kelak. Semoga bisa. Itu artinya saya harus menjadi Hamba-Nya yang baik dan kelak bisa berjumpa dengan-Nya.
For all the journey and thousand journeys forward, many many thank, Allah. Especially for the great partner in life, Nawla.
Enjoy the life, keep smile to God :)
12-12-12
(My Mother's birthday!!)
Saturday, November 24, 2012
Menulis Novel
Menulis. Kayaknya itu bakal jadi pilihan hidup. Setelah mengalami betapaaaa Uwow-nya jadi ibu, sepertinya profesi PENULIS adalah pilihan pekerjaan terbaik. Belom kerasa-kerasa banget sih bisa ngebulin dapur sendiri lewat nulis (selama ini honor nulis pake buat ngebulin dapur orang alias makan-makan di luar:p), tapi paling gak saya punya sesuatu yang dilakukan di luar profesi utama nan mulia (dan rempong) sebagai Ibu Rumah Tangga. Bukan karena pekerjaan Ibu Rumah Tangga terlalu ringan sehingga saya perlu pekerjaan sampingan lain, bukaaan! (bisa diadu ama presiden sibuk mana gue ama doi). Tapi, saya perlu media lain untuk menyalurkan bakat terpendam saya (telaaaah, kayak iye aja). Maksudnya hasrat terpendam mungkin lebih tepat.
Saya suka baca. Trus? ya udah, gitu aja.
Gak deng, maksudnya, saya kan suka baca, trutama bacaan fiksi, cerita-cerita romantis happy end gitulah. Tipikal Ibu Rumah Tangga minim waktu hiburan, jadi kalo baca yang ringan-ringan aja, hehe... Nah, berhub saya suka gak hemat kalo baca novel, semalem abis, semalem abis. Besoknya manyum, baca ulang novel bulan kemaren, gituuu muluuu. Soalnye, novel kagak murah juga kan ya? makanya kalo ada obral buku saya suka kalap, lebih kalap dari emak-emak yang nemu cabe sekilo serebu! Jadiii, saya pikir, pan gini-gini saya juga pernah lah ya nulis fiksi (seblumnya nulis yang serius mulu, ilmiah populerlah, artikel pertanianlah, kurang asik bener ya?), waktu kelas 4 SD *nyengir*. Jadi, kenapa gue gak nulis novel sendiri, lebih hemat, gak usah beli-beli, syukur2 best seller! (Ini bagian jiwa financial planner ibu RT yang komen. Gak perlu setuju).
Eeh badewey, saya pernah nulis fiksi dengan serius loooh, waktu kelas 3 SMP. Saya sampe beli binder (anak kuliahan angkatan saya pasti kenal binder! anak sekarang mah udah pada nablet ya?), trus saya nulis cerpen. Pembaca setia saya (dan satu-satunya) adalah teman yang duduk di depan saya (namanya Elfa. Haaai Elfa, semoga lo baca!). Dia suka, itu bagus. Itu ukuran saya, soalnya yang lain pada agak mau baca (jangan tiru pengukuran ini!). Saya berhasil bikin 3 ato 4 cerpen kalo ga salah, dan 2 cerpan (cerita panjang, tapi gak panjang2 amat sih, tapi gak sependek cerpen jga sih.. apaan atuh ya?). Keren kan? (iya kali ya, kata lo!)
Nah, berbekal pengalaman berharga itu (bagaimanapun itu pengalaman, bukan?) saya memberanikan diri memasuki ranah fiksi. Berawal saat kuliah belajar nulis skenario, karena saya juga doyan banget ama film. Lalu kemudian waktu mengembleng (maaf agak lebay) saya dengan banyak hal selama 29 tahun ini (well, yeah, im that old!) saya lalu memberanikan diri menulis Novel! Yeaaaaaay! #kemudianhening
Alasannya, karena saya punya cerita (semoga ini emang CERITA yang layak diceritakan), trus hari gini gampang banget berinteraksi dengan penerbit, sarananya banyak, trutama saya dapet dari Twitter. Trus, fasilitas semacam Self Publising-pun mulai dikenal, alternatif banget buat penulis pemula macam saya. Akses terhadap informasi apapun jauuuh lebih mudah, sehingga kita bisa memperkaya cerita dan membuatnya spektakuler! Daaan, menulis buat saya kegiatan yang bisa membuat saya lebih sehat, secara batin. Itu yang penting.
Kenapa baru mulai sekarang? Yeee, udah bagus mo mulai! Untuk orang pemalas seperti saya, bisa memulai nulis novel dengan tulisan awal belasan halaman itu udah baguuus banget! *menghibur diri*
Cerita di novel pertama ini terinspirasi oleh banyak hal, terutama kehidupan saya pribadi. Dari banyak penulis saya selalu dapat tips, mulailah menulis tentang hal yang paling kamu ketahui. Nah, kenapa baru sekarang saya tulis? Ini semacam endapan dalam kepala, tunggu beberapa lama, biar endapan itu menebal dan bisa dikeluarkan. Saya sadar, cerita yang saya angkat saat ini mungkin tidak bisa saya tulis 5 tahun, atau bahkan setahun yang lalu. Ini semacam muara dari banyak kejadian yang saya alami, bukan hanya tentang apa yang saya dapat beberapa tahun belakang ini, tapi juga tentang masa kecil yang saya alami.
Ingat Pensieve-nya Harry Potter? tempat kita bisa memasuki kenangan orang lain dengan memasukkan kenangan berwarna perak. Nah, seperti itulah yang saya rasakan, seperti menarik perlahan kenangan-kenangan di dalam kepala dan menuangkan pada tulisan. Semua kenangan itu terangkai jadi sebuah pondasi cerita. Sebelum saya menuliskannya, cerita itu tergambar jelas di depan kepala, seperti masuk ke dalam Pensieve, lalu saya tinggal menuliskan semua itu.
Semudah itu? tentu saja TIDAK! memiliki WAKTU menulis yang intensif dan terjaga (mood dan nafas ceritanya) adalah hal yang susah-susah gampang bagi emak-emak macam saya. Lagi enak nulis, eeeh, anak bangun, trus menghalau semua kesunyian yang indah dengan ceriwisnya yang 'ya ampyuuum!'. Kalo malem pas anak tidur? Dikira seharian ngurus rumah dan anak, pas malem bisa segar bugar cenghar?? Ngantuklah!
Tapiii, ada kalanya inpirasi itu datang dari anak, pas nemenin dia main, atau pas lagi nyuci piring, ato pas lagi ngucek kolor, atao pas lagi beberes rumah, ato pas lagi nawar ikan kembung, dan lain-lain. Seringkali pas banget kita gak megang alat untuk nulis, jadi kudu dijaga baik-baik, kalo gak, saya tulis di HP. Intinya, dalam keseharian, saya bisa aja ngerjain banyak hal, tapi kepala tetap pada track novel yang lagi saya garap. Mungkin teknik macam ini yang sementara cukup efektif bagi saya dengan profesi utama Ibu RT.
Mengutip Dewi Lestari (saya suka karyanya), yang sangat percaya pada Konstelasi. Dalam hal ini juga saya percaya, bahwa ide ini tidak mengendap tanpa maksud dan keluar begitu saja tanpa tujuan. Ketika saya memutuskan untuk menuliskannya, ada takdir yang sedang dicatatkan, entah seperti apa. Karena setiap karya, seperti kata Dee, punya takdirnya masing-masing. Saya menulis tidak sendiri, saya sadar betul itu. Kalau Dewi Lestari menyebutnya dengan Sesuatu Di Alam Semesta -yang ia sendiripun tidak tau apa itu-, buat saya, itu adalah inspirasi dan inspirasi adalah semacam 'device' Tuhan Sang Dzat yang Maha di alam semesta ini.
Cara yang paling benar untuk saya dalam menulis adalah membiarkan inspirasi menemani kita sepanjang waktu dengan caraya sendiri, jangan pernah abaikan ia. Dan cara untuk mempertahan inspirasi untuk menemani kita -seperti yang (lagi2) banyak dikatakan penulis- adalah memurnikan hati. Hati yang positif dan ikhlas adalah tempat yang terbaik bagi inspirasi. Abstrak banget ya? saya juga sejujurnya bingung mo nulis apaan, hahaha. Pokoknya, menulislah dengan keyakinan bahwa kita ingin tulisan ini menjadi hal yang baik ketika orang lain membacanya. Soal laku gak laku itu soal lain, pokoknya nulis dulu, udah jadi baru promosi yang gencar!!
Sejujurnya agak aneh membicarakan hal yang belum ditulis, seperti yang selalu saya rasakan kalo ikut workshop menulis. Jadiii... ya nulis ;p
Udah dulu ah, belom mandi.
Mari, Inspy, kita mandi bareng! (Temen akrab gitu deh ama Inspirasi, ceritanyaa..)
Oya, jangan lupaaaa.... kalo Novel saya jadi, beli yaaak! :D
*Dikeplak si Inspy, promo tuh kalo udah jadi!*
Ciao!
Subscribe to:
Posts (Atom)