Monday, December 23, 2013

Sekolah Dasar

Alias SD.
Sebulan terakhir ini, kepala diisi dengan segala macem tentang eSDe. Karena pada bulan Desember ini, hampir sebagian besar SD swasta tutup pendaftaran. Pedaftaran buat tahun ajaran 2014-2015! Bayangkan.. ck,ck,ck.. fyuh!

www.itsschooltime.com

Yang membuat kepala saya dipenuhi persoalan SD ini tidak lain tidak bukan adalah, Nawla. Agustus 2014 doi genap 6 tahun (Owwh.. my baby!), dan saya memang berencana memasukkannya ke SD. Untuk SD negeri, gak akan ada harapan masuklah, mengingat umur Nawla yang kurang dari ketentuan masuk SD negeri. Selain itu, saya kok gak tralu minat ya ama SD negeri? huehehe...

Jujur aja, persoalan SD untuk Nawla ini sangat penting buat saya. Ini adalah sebuah anak tangga berikutnya. Emosi dan deg-degannya sama kayak saya mau nyapih Nawla atao pas pertama kali bawa Nawla ke Playgroup. Ini SD boo! Nawla bakal 6 tahun di situ (kalo gak pindah-pindah, Insya Allah) dan memulai kehidupannya sebagai Anak usia sekolah, dan menanggalkan titel balitanya. The Baby is growing, upper an upper.

Selama sebulan, tak ada hari tanpa browsing SD, sms/WA temen yang udah sekolahin SD anaknya, SKSD ama emak-amak yang udah punya anak SD, dan sebagainya. Namanya juga usaha... Berbekal alamat dan kontak beberapa SD yang direkomendasi beberapa narasumber tadi, saya memulai penjelajahan mengarungi Jakarta, mencari sekolah. Ini Ibu Kota, mencari sekolah tentu seperti mencari jerami di tumpukan jerami. Gampang! Iyalah.. Tapi saya gak minat dengan SD kebanyakan, yang belajar dengan gaya konvensional, searah, berorientasi pada hasil dan segalanya seperti jaman saya sekolah dulu. Maaf jika ada yang tersinggung, tapi soal pendidikan, di era sekarang ini, boleh dong disamakan dengan selera? setiap orang berhak untuk memutuskan pendidikan mana yang ia yakini. Boleh kan?

Saya sengaja berkendaraan umum, untuk ngukur gimana jarak dan tranportasi ke sekolah itu. Turun naik Kopaja, ojek, angkot, beneran keliling cari sekolah. Udah macam sarjana muda mencari kerja deh pokoknya..

Ada beberapa yang langsung blacklist, gak cocok karena menurut saya masih terlalu konvensional, ada juga yang langsung  blacklist karena uang masuk dan SPPnya bikin migren seketika! Padahal konsepnya keren banget, deket lagi dari rumah! Tapi ya sudahlah.. emang bukan rejeki. Sempat terpikir sih jual mobil demi bayar uang masuk... Ya Tuhaaan.. itu sekolah mahal bener sih yak??

Sampai di  hari-hari terakhir menjelang tanggal tutup pendaftaran beberapa sekolah, saya belum juga nemu. Masih ada beberapa list sekolah yang harus saya datangi, dan saya cuma punya waktu 1 hari lagi. Hingga di pagi terakhir masa pendaftaran, saya tiba-tiba terpikir untuk menghubungi seorang teman di daerah Ciganjur. Anaknya sekolah di sebuah sekolah yang saya lupa namanya (dan rasanya tidak masuk list saya). Saya kontak dia, rencananya mau nanya soal sekolah alam di daerah itu. Tapi entah kenapa saya malah nanya anaknya sekolah di mana. Dia bales WA lama juga, padahal udah jam 9an. Pas saya baca nama sekolahnya, langsung saya browsing. Itu adalah pertama kalinya saya membaca situs sekolah tersebut. Dan saya tiba-tiba langsung memutuskan untuk mendatangi sekolah tersebut. Padahal rencana sebelumnya saya mau ke sebuah sekolah di Pasar Minggu yang cukup dekat dengan rumah, baru setelah itu ke Sekolah Alam di Ciganjur. Saya sudah telp 2 sekolah itu.Tapi saya putuskan untuk tidak jadi ke pasar minggu, tapi langsung ke Ciganjur, menuju sekolah anaknya teman saya itu. Berdua Nawla yang masih batuk-batuk karena alerginya yang kambuh di udara lembab seperti sekarang ini, kita naik kereta ke Lenteng Agung, tanpa tahu di mana sekolah itu tepatnya berada. Di kasih alamatpun saya gak mudeng sama sekali. Ciganjur masih sangat asing buat saya. Turun dari Kereta, paling  masuk akal adalah cari tukang ojek. Alhamdulillah mereka kenal dengan nama jalannya. Ternyata jaraknya lumayan jauh juga dari stasiun. Sempet jiper juga.. rasanya ini kejauhan buat Nawla (padahal sebelumnya saya sempat survey sampai Depok juga).

Sampai di sekolah itu. Sederhana sekali sekolahnya. Mungil dan  Asri. Saya ketemu dengan salah satu bagian Adminnya. Ketika saya tanya apakah masih buka pendaftaran? saya malah ditanya balik, "Ibu mau ambil undangan?" Bingung deh. Akhirnya semua dijelaskan, barulah saya ngeh, ini adalah hari terakhir pengembalian formulir. Formulir pendaftaran siswa baru? Oh, bukan. Formulir untuk mengikuti Seleksi Orang Tua sebagai Mitra Sekolah. Wak waw... Jadi apabila saya mendaftar, itu artinya saya siap dites apakah saya layak menjadi orang tua yang bermitra dengan sekolah itu dalam mendidik anak atau tidak. Tesnya bukan berupa tes tulis atau tes wawancara sekali jalan, tes ini adalah serangkaian proses yang harus dilakukan orang tua di rumah, sebelum memasukkan anaknya ke sekolah tersebut. Tes ini adalah sebuah ujian pada proses, bukan pada hasil.

Ada sedikit pencerahan di hati. Kayak feeling. Feeling kalo ini adalah sekolah yang baik untuk Nawla. setelah melihat-lihat sebentar kondisi kelas dan aktivitas siswanya, saya akhirnya mendaftar. Ternyata uang pendaftarannya gede juga.. iya sih, soalnya ini sekalian biaya Seminar dan Asesment orangtua selama 3 minggu oleh sekolah. Sebenernya sih angkanya wajar aja, tapi jumlah uang pendaftaran itu setara dengan jumlah uang di dompet. Saya pikir, jumlah uang yang saya bawa cukup banyak untuk keliling hari itu.. ternyata dompet langsung kosong seketika. Yang tersisa adalah beberapa receh yang saya sendiri gak yakin cukup utnuk membayar ojek yang saya suruh nunggu di depan, karena agak susah cari ojek dekat sekolah itu. Tapi ya sudahlah, ntar bisa mampir ATM, pikir saya. Lalu, saya mendapat formulir untuk diisi. Bukan formulir tepatnya, tapi buku Biografi. Biografi tentang Nawla. Pantes aja, pada ngisi di rumah... Gak ada pilihan lain, saya harus mengisi "Buku Biografi" saat itu juga. Ngos-ngosan.. hampir 2 jam saya di sekolah itu. Untung Nawla cukup enjoy selonjoran di lantai ruang Admin.

Selesai semua, saya coba mantapkan hati, mumpung jumat juga, banyak-banyak doa.. semoga saya melakukan hal yang benar. Akhirnya saya pulang. saya harus segera pulang, karena Jumat siang adalah jamnya Friday Fun Club Nawla bersama teman-teman sekomplek dan saya jadi pembaca buku di situ (ini adalah pengembangan dari Friday Reading Club ). Ternyata si tukang ojek tadi menghilang. Mungkin kelamaan nunggu dan bete.. (pasti bete banget tuh..). Maaf yaah.. Hikmahnya, uang saya masih cukup buat beli tiket kereta, hehe..

Apa sih sekolahnya?
Ini adalah Tetum Bunaya . Di Jl.Timbul, Jagakarsa, Ciganjur.
Sabtu pagi, saya harus hadir di Gedung Apung UI untuk mengikuti 4 jam "ngobrol" dengan Bu Alzena Masykouri, Psikolog yang akan mendampingi program ini. Oya, nama program seleksi ini keren deh : Menjadi Orang Tua yang Bertumbuh (MOTyB). Kalimat inilah yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk ikut mendaftar.

Masih ada hari-hari panjang yang harus saya (dan suami) lalui untuk menjalankan proses Menjadi Orang Tua yang Bertumbuh ini. Lalu bila lolos seleksi masih ada tahapan berkiutnya. Analogi yang dipakai adalah biji menuju pohon yang tumbuh. Tahap yang baru saya jalani ini adalah tahap "Tunas". Sampai 3 minggu ke depan. Dan apa yang saya dapat selama "baru" 2 hari ini? hanya satu hal; kesadaran penuh sebagai orang tua. Dan bila diuraikan, sesuangguhnya itu lebih banyak dari yang saya peroleh dari seluruh literatur yang saya baca selama menjadi Ibu 5,5 tahun ini.

Apakah saya akan lolos seleksi? tentu saja hanya Allah yang tahu. Tapi rasanya saya setuju dengan Mba Endah, sang pendiri sekolah ; "Nikmatilah proses dalam program ini, soal lulus seleksi, itu adalah bonus". (Sebenernya bingung juga kalo gak lulus... mesti cari SD ke mane lagii...?? T_T)

Baiklah. Mari kita jalani. Bukan jalani tes ini semata, tapi jalani proses menjadi orang  tua yang bertumbuh bersama anak.

Bismillah.

:)


Sunday, December 1, 2013

Rain-Hujan (Bukan bintang korea)

Its taken from here

Its December.
Its  a rain falls.

A rare weekend i do. Just stay at home.
Sometime, the best travelling is in ur home. Make a deep journey to ur life, in every single detail. I think, i do agree with that.

Karena Nawla yang sedang sakit dan badan yang sedikit lesu, kami memilih berakhir pekan di rumah saja. Bukannya sombong sih, gak pernah wiken di rumah. Tapi karena sejujurnya rumah kami agak.. "kurang luas" buat refreshing. hehe. Jadi kami lebih sering numpang wiken  di tempat lain di mana kami bisa ngantongin udara segar untuk persediaan seminggu ke depan.

Niatan wiken di rumah ini didukung oleh cuaca mendung dan hujan subuh  yang menderu, sampai menciptakan raindrops indah di jendela lantai 20 kami. Sayang, gak sempet moto.. tadi milih selimutan aja. 

Ooowh... its feeling the rain! Do u feel the same, my friends?
Feeling rain, feeling blue.. gloomy.. meloww.. apalah...
Banyak yang bilang, hujan datang membawa sejuta inspirasi. karena itulah banyak penulis cinta pada hujan. Seringkali inspirasi berbanding lurus dengan derasnya hujan. Begitu katanya. Iya sih. Jadi ingat setahun yang lalu, hampir seluruh novel saya, saya tulis ketika hujan. Entah ini membenarkan hipotesa itu atau hanya kebetulan saja. Untuk membuktikannya, sebaiknya saya mulai menulis novel lagi. Dan kita lihat, apakah bisa rampung ketika musim panas datang? Hohoho... *ketawa miris*

Okeeey.. setelah seminggu lebih bergumul dengan sinus maksilaris yang tiba2 datang lagi setelah lama meninggalkan saya, dan sejujurnya saya berharap kami tak pernah berjumpa lagi, mari  kita sambut Desember nan syahdu  ini dengan laptop yang membara! Semoga semua kerjaan bisa beres, dan sebuah cerita bisa terangkai. 
Semoga Nawla juga cepet sehat dan kita bisa liburan, yeaaaay!!(padahal sebagai ibu RT, everyday is holiday beybeh!)

Well, actually, its a nice weekend to us. Enjoying Saturday and Sunday in no where, just at home, do like weekdays but no need to worry about work and school. Simply way to relax.

Happy rainy, everyone! Saatnya pamer coat keren ala ala korea! hahahah!
Cheers! *Angkat cangkir hot peppermint tea*


Wednesday, November 27, 2013

Beberes

Gambar punya sini

Selamat datang... lagiii...! Hehe.

Setelah berbulan-bulan gak nongol ngeblog nih. Sengaja sih, kan halaman bawah masih jualan *nyengir*. Ini sekedar mo unjuk gaya aja.. udah rada nambah (dikiiit) ke-gape-an untuk bikin blog lebih okeh. Ya.. paling gak udah bisa bikin header. Yeaaah! (Silakan pasang muka -____-")

Tapi yang namanya punya rumah, apapun bentuknya. Termasuk rumah curhat penting gak penting kayak begini, perlu jugalah diberesin... masa rumah mo RSSSSS terus yak? mumpung gratis bisa up grade rumah macam begini, asal mau rada kelenger aja belajar ngeblog bener. eh, ini sih saya yah? Wokeh, masih belom beres semua sih. Paling gak ruang tamunya lumayankan? Semoga jadi lebih semangat ngeblog lagi.

So, kalo kita sering ngerasa bosen.. hidup gini2 aja... kapan bisa jadi bintang Hollywood ato tiba2 menang lotre keliling tata surya.. mungkin kita perlu sedikit sentuhan pembaharuan (taelah!) dalam hidup. Gak usah yang mahal2,sekedar ganti wallpaper HP ato donlot lagu baru, ato ganti template blog kayak gini, bisa juga kok jadi sentuhan baru dalam hidup. Dan teteplah pede setengah mati kalo hidup kita itu tidak biasa-biasa saja sodara-sodara! Tuhan tidak sedang bermain dadu, kalo kata Einstein. Apa hubungannya? hmm.. apa yak? yang pasti saya baru ganti bathroom's books saya dgn buku Einstein-nya Isaacson. Dan jadi lebih semangat ke kamar mandi. Loh? Yah, apapunlah, biar bikin hidup lebih semangat! Daripada cari pasangan baru.. *eh? *ups! Repotlah yang begitu mah...

Ini lagi siang bolong redup-redup bikin ngantuk mata yg baru merem jam 4 pagi. Tapi masa tidur jam segini yak?? kaya bukan anak muda ajah.. halah! Be productive-lah, walo angot-angotan.

See u in another penting gak penting curhatan Pipit.
Lets create the new!

Ciao!

Friday, September 6, 2013

My Novel : EYHONIA

Ini adalah sebuah surat.
Surat seorang Ibu untuk anak perempuannya. Surat yang amat panjang. Sehingga hampir memuat semua perjalanan hidup dengan takdirnya yang seringkali dramatis. Namun, tidak perlu seumur hidup untuk membaca surat yang panjang ini, mungkin hanya perlu sehari dua hari atau bahkan beberapa jam saja. Tapi kau tidak akan pernah lagi menjadi orang yang sama setelah membaca surat ini. Paling tidak, itulah yang dialami Yumi, Sang Anak. Tumpukan lembaran tulisan Ibu seketika melemparnya ke masa lalu, ke masa kecilnya, membolak-balik kenyataan sekaligus perasaaannya. Yumi terseret dalam turbulensi peristiwa yang tak pernah ia duga. Dan pada akhirnya segalanya terasa menjadi berbeda. Namun ada satu hal yang tetap sama, yang selalu Yumi yakini sepanjang masa; cinta Ibu. Yang besarnya tak pernah lebih kecil sedikitpun dari luas seluruh semesta.

Nawla's First Book!

Baru sempet nge-post tentang ini nih, hehe... *emak sok sibuk*
Here it is...!
Untuk cover versi PDFnya bisa dilihat di sini : http://www.scribd.com/doc/165773078/Cover-Nawla-s-Book

Ide tentang bikin buku ini sebenernya udah lama, sejak melihat Nawla suka sekali gambar dan nulis. Di usianya yang ke-3 Nawla sdh bisa nulis kata "IBU". Itu tulisan pertamanya :') Sejak sekolah dan belajar baca tulis di TKnya (yoi, TKnya ngajarin baca tulis siiih.. *kurang sreg*) dan Alhamdulillah Nawla ternyata suka baca dan nulis, maka tiada hari tanpa nulis, baca dan gambar. Di rumah, saya gak ngajarin Nawa baca sama sekali, juga nulis. Tapi setiap hari dia pasti buka buku dan mencoba baca tulisan-tulisan di sana, kalo gak ngerti, tanya ibunya (bisa tiap semenit sekali nanya! benar kata pepatah: makin anak gede, makin rempong, bo!), termasuk soal nulis, gayanya dia nulis begini: "Bu, tulis 'Pergi ke sekolah', gimana?" sambil masak ato sambil nulis (juga) ibunya dengan penuh kesabaran (taelah!) meng-ejakan satu persatu hurufnya. Begitulah seterusnya, sampai Nawla sedikit sedikit bisa nulis kata-katanya sendiri. Bahkan diapun sudah mulai BBM dan Whatsapp-an! *lampu merah-lampu merah!*

Sampaaaaiii, pada suatu hari, dia menggambar dan menulis sebuah kalimat di atas gambar itu. Ketika saya perhatikan, ternyata dia membuat sebuah cerita. Bisa dilihat disini : http://t.co/bNjQEB3TeA Cerita ini adalah lanjutan dari Buku SPLAT THE CAT yang lagi dia suka banget waktu itu. Begitu katanya. Dan gambar cerita pertama itu dia buat ketika menjelang 4,5tahun. Saat itulah saya terpikir untuk membantu Nawla bikin buku yang lebih serius (obses banget emang emaknya, heuheu..!). Tapiii... dasar Emak sok sibuk, lupalah pada projek ambisius itu, sampai suatu ketika ketika saya berencana untuk mencetak novel saya yang pertama (abis postingan ini saya officially launch ebook novel saya nih, donlot yaa! gratis! *promo*-- maaf, disela mulu ya?) pada hari ultah saya, saya mikir, kenapa gak nyetak buku Nawla juga ya? sekalian, ultahnya cuma beda sehari dengan saya. Maka seminggu sebelum ultah kami yang bersejarah itu.. (Pit, please..) saya dan Nawla ngebut bikin buku. Saya sih tinggal edit dikit novel yang emang udah sejak Februari rampung. Tapi bukunya Nawla bener-bener belum dimulai. Inilah dialog meeting project pertama dengan Nawla pada waktu itu :

Ibu : Naw, gimana kalo Nawla bikin buku dan nanti kita bagikan pas ulang tahun Nawla?
Nawla : Mauuuuuuuuu!!! *jingkrak-jingkrak*
Ibu : Oke, kita bikin ceritanya dulu. Nawla mau nulis cerita apa?
Nawla : *mikir* Putri Nauli!

Nah, tentang karakter Putri Nauli ini adalah originally buatan Nawla yang tercipta sejak lama, mungkin sejak Nawla kecil. Nauli adalah panggilan saya pada Nawla kalo lagi males nyebut huruf "A", Nawla jadi Nauli. Yaah.. gitulah, agak asal emang emaknya. Kebetulan artinya bagus, "cantik" kalo kata orang Medan (Alhamdulillah, Amiin!). Saya sering mendongengi Nawla sebelum tidur kalo pas lagi males buka buku (ya, ya.. saya emang agak banyak malesnya..), karena saya sering manggil dia Nauli, dia selalu minta didongengi tentang Nauli, pake embel-embel Putri (ngarep nanti bisa dibeli Disney, jadi Princess ke-9, heuheu..). Maka terciptalah karakter Putri Nauli dengan latar cerita beraneka macam, tergantung mood emak dan rikues anaknya. Ok, lanjut dialognya!

Ibu : Hmm.. Putri Nauli ya? Ceritanya putri Naulinya kenapa nih?
Nawla : Putri Nauli punya mainan, tapi bosen mainnya..
Ibu : Kenapa bosen?
Nawla : hmm.. gak ada temennya.
Ibu : kenapa gak ada temannya?
Nawla : hmmm... karena temannya jahat.
Ibu (kaget!) : Loh, kok jahat? (Sejak sekolah, kosakatanya makin banyak, begitulah anak-anak, beware Buibu!)
Nawla : Mereka gak mau temenin Nauli main.
Ibu : Kenapa?
Nawla : Hmm.. mereka mau main, tapi ambil mainannya rebutan. Naulinya gak mau rebutan mainan!
Ibu : *hmmm.. ini sih curhat nampaknya..* Oke, oke.. coba kita gambar dulu seperti apa Nauli dan mainannya yah.

Dan seterusnya... bisa panjang dialognya kalo ditulis semua. Intinya, saya coba gali dulu ide itu dari kepala Nawla. emang sih, jadinya cerita yang amburadul banget, mainanya dibuanglah, terus temennya bawa skuter dan Nauli ikut mainlah, terus jatohlah, terus tiba-tiba settingnya pindah ke sekolah, di sekolah main ayunan dan kejedotlah, etc, etc.. Yaaah, namanya anak-anak.. imajinasinya emang luar biasa. Semua pasti base on pengalaman Nawla sehari-hari. Menyadari bahwa dia sudah mulai mampu mengadaptasi kenyataan yang dia alami ke dalam sebuah cerita dengan karakter yang bukan dia, menurut saya itu luar biasa. Itu adalah kemampuan dasar dari seorang pencerita, yang sebenarnya dimiliki oleh  setiap orang dan pasti dimiliki oleh setiap anak-anak. Itulah yang kemudian makin mendorong saya untuk membantu Nawla membuat cerita yang lebih terstruktur. Dengan struktur yang paling sederhana. Saya gali idenya, saya coba sisipkan ide saya, ada yang dia tolak, ada yang  dia terima dan dia kembangkan, begitu seterusnya, sampai jadi sebuah cerita yang utuh. Ini baru ceritanya yah, belum redaksional tata bahasanya.Untuk yang satu itu, Emaknya emang turun tangan banget, hehe. 

Mudahkah semua ini? Hoho.. tentu tidak! seharian penuh saya dan Nawla ngegarap cerita ini, tentunya diwarnai oleh gambek, rewel, gak terima, karena beda pendapat. Dia keukeuh dengan ke-amburadulannya dan Emak-nya perfeksionis gila (maka terjadilah perang dunia). Tapi akhirnya jadi juga. Mungkin juga karena Nawla terbiasa dengan dongeng Putri Nauli yang saya bikin spontan tiap mo tidur, jadi ketika diujung perdebatan, saya ambil senjata pamungkas, yaitu sebuah cerita utuh yang lengkap, Nawla mendengarkannya dengan seksama. Dan di dalam cerita itu, banyak idenya juga yang saya pakai, maka iapun setuju. 

Dialog mejelang akhir meeting project (demi menghindari konflik lanjutan) :
Ibu : Oke, jadi gini aja ceritanya : Nauli merasa bosan dengan mainannya, lalu dia beli permen, ternyata gak enak, lalu dia beli cokelat, ternyata gak enak juga, lalu ibu bilang, coba nauli makan buah, buah ceri ya? wah, banyak buah cerinya, lalu nauli bagi ke temannya. temannya senang, nauli juga senang. lalu nauli juga bagi mainannya, temannya tambah senang, nauli juga. Jadi gak bosen lagi dengan mainannya! gimana?
Nawla : *angguk-angguk* tapi.. permen ama cokelatnay dibagi juga.. (permen dan cokelat ini ide dia, mutlak, kudu ada! berhubung di kehidupan nyata ini adalah benda langka, hahaha!)

Setelah cerita jadi, maka mulailah dibuatkan ilustrasi. Soal gambar ini, sepenuhnya saya serahkan pada Nawla, palings saya cuma mengarahkan dikit aja, misal: "gambarin pohon ceri yg buahnya banyak, Naw!" ato "ekspresinya yang sedih dong.." etc.. Soal warna, bentuk karakternya, termasuk gambar mainannya (dia pilih kelereng karena gampang gambarnya, katanya, hehe!), cokelat, permen, temannya Nauli, itu semua Nawla yang ciptakan. Gambarnya masih sederhana, dan belum konsisten (warna rambut Nauli ganti-ganti, kulitnya juga), tapi saya berusaha untuk gak banyak mencampuri, menurut saya penting sekali untuk mendorong originalitas karyanya. Toh, nanti kalo udah jadi, dia mungkin bisa mengkoreksinya sendiri. Yang paling penting adalah, tumbuh keberanian untuk berkarya. 

Untuk teknis menggambar, tadinya kita pakai cara biasa, Nawla dan krayonnya. Tapi mikir waktu yang mepet dan keribetan yang sungguh lama kalo gambar itu harus di-scan lalu diedit di fotoshop, lalu masuk corel, lalu masuk in-design, halaah ribet! mana Emaknya cuma modal Netbook doang. Maka akhirnya kami putuskan untuk meminta bantuan DoodleBuddy! Yap, meski banyak yang kontra perihal anak balita pegang iPad, tapi untuk yang satu ini saya berani membela, it is okay if they (kids) do something creative with that (iPad, tablet, etc). Enaknya DoodleBuddy ini karena gambar bisa langsung jadi file JPEG. Jadi bisa langsung saya susun di Ms.Word bareng tulisannya, kasih background dan convert ke PDF, kasih ke percetakan, tinggal masukin ke In-Design deh. Beres! Untuk bikin gambar, gak sampai sehari jadi tuh Nawla. Soal DoodleBuddy emang pakarnya doi. Besoknya udah bisa kita bawa ke percetakan. Lalu, Taddaaaaa! Jadilah bukunya! Delapan halaman full color dengan kertas Art Paper berukuran A5 (setengahnya A4). Dengan layout yang simpel banget (karya ibunya yang gak ada pengalaman sedikitpun nge-lay out buku), akhirnya jadilah sebuah buku cerita pertama Nawla. In order to her 5th Birthday, dedicated to everyone she loved, begitu kata-kata di samping foto Nawla di cover belakang.

Lalu ketika saya posting covernya pertama kali ke twitter. Banyak juga yang respon. Jadi kepikir untuk jualan buku ini (emaknya ini sih, originally ide seorang ibu-ibu!), dan Nawla juga setuju! emang doyan main jual-jualan juga dia.. Tapi saya pengen ini gak sekedar dijual, keuntungan hasil penjualan harus jadi manfaat yang lebih  besar untuk Nawla, Lalu saya usul untuk disumbangkan, dia setuju. Akhinya kita putuskan untuk buka preorder buku ini. Lumayan juga yang pesen. Sebelumya kita cuma nyetak 10 eksemplar untuk dibagikan ke keluarga sebagai ucapan terim kasih Nawla di hari ultahnya (kebiasaan yang saya tanamkan ke Nawla bahwa hari ulang tahun adalah hari untuk kita berterima kasih pada banyak orang yang berperan dalam kelahiran kita). Berhubung cetaknya dikit-dikit, jatohnya jadi mahal banget. Tapi ya sudahlah, demi kemajuan anak.. (bahasa emak-emak begini deh). Nah, untuk cetakan yang kedua kita bikin lebih banyak karena yg pre-order lumayan banyak (walo belom sampe ratusan sih, makanya harga cetaknya masih mahal juga! hiks!). Untuk penyaluran hasil penjualan buku, kita kerja sama dengan Happy Play. Apa itu? bisa dilihat di sini : www.happyplay.org 

Soo... hows so far? Yang pasti cetakan kedua sudah full booked. Kita sudah buka pre-order selanjutnya. Insya Allah cetakan ketiga nanti sudah bilingual!  Sambil terus promo untuk pre order selanjutnya, Nawla malah lagi merancang buku ke-2nya tentang perjalanan pertamanya ke Bali beberapa hari yang lalu. She looks happy about making a books, Alhamdulillah. Meski saya, mungkin juga Nawla, belum tahu seperti apa ke depannya, apakah dia akan jadi penulis beneran atao tidak, its okay. Belajar menulis a.k.a belajar bercerita itu penting menurut saya. Ini bukan tentang bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan baik, tapi juga tentang bagaimana kita bisa berbagi inspirasi dengan orang lain. Dan kekuatan dari sebuah inspirasi? it can change the world!

Mari menulis! :)

Monday, August 26, 2013

A memorable Hand In Hand of Nawla

Waah.. Ramadhan is passed away yah... Gimana lebarannya? Semoga makin kenceng silaturahimnya. Gugur semua dosa, saling maafin dan memulai hidup dengan lebih baik, Amiiin! Maaf lahir batin yaaa..

Tapi sedih juga Ramadhan berlalu. Ramadhan kemaren banyak banget hal berkesan yang saya dan keluarga alami. Karena si unyil Nawla udah gede (5 years already!), jadi makin seru melewatkan banyak hal dengannya. Apalagi Nawla, kayaknya niih.. rada-rada impulsive giving gitu ama orang. Jadi waktu Ramadhan kita berbagi di banyak event, dia happy luar biasa. Salah satunya yang paling berkesan adalah saat berbagi mainan dan buku untuk teman-teman di Nias. Ini hajatnya Wafer Tango dan Females Daily nih. Tengkyuu banget buat kalian semua, Nawla was truly happy!

Sebagai penghuni kapling kecil di sebuah tower di Jakarta, kami emang gak bisa bikinin Nawla kamar segede kamarnya Richi Rich (Yaeyalaah..!). Tiap hari kita pandangi kamar mungil yang rasanya kok semakin mungil. Setelah dipandangi hampir tiap hari itu, akhirnya kita sadar, "Waaaa...mainan Nawla makin banyak yaa!" Nawla cuma bisa mengangguk dengan tatapan "so what gitu loh?".  Agak bingung juga, kalo dienyahkan begitu aja pasti tuh anak manyun. Kalo disuruh janji gak minta mainan lagi, jelas mustahil. Aaarrgh, gemes banget liat maenan numpuk itu. Tapi emang masih bagus-bagus deh. Sampe akhirnya saya baca tentang kegiatan donasi mainan-nya MommiesDaily bareng Wafer Tango. Terus saya cerita deh ke Nawla. Eeh, dia malah seneng! Dengan penuh semangat dia keluarin mainannya, sampe box dan rak mainannya hampir kosong! "Kasih semuanya aja, Bu! pasti temen-temen (di Nias maksudnya-Ibu) pada seneng!" Semanget bener tuh anak. Gak lama keluar kalimat lagi, "Nanti kan Nawla bisa beli maenan yang baruuu.." Haiiyaaah, gubrak!!

Tapi tak apalah, yang penting dia mengerti dan tulus untuk berbagi. Nawla pengen temen-temen seneng katanya. Dan yang menakjubkan adalah, dia memang memilih mainan-mainan yang bagus, bukan sekedar layak main atau sudah gak dimainin dia karena bosan. Beberapa adalah boneka yang emang jarang dia mainkan karena saking sayangnya takut rusak. Saya gak komen apapun untuk setiap pilihan mainannya. Saya yakinkan dia bahwa saya setuju untuk setiap pilihan mainannya, sebagus dan sebanyak apapun itu. Adegan pengumpulan mainan itu mengharukan sekali deh..  Nawla memisahkan satu satu mainannya sambil ngobrol ama mainan-mainan itu, "Kamu mau pindah, ke Nias. Di sana ada anak-anak juga. Temenin mereka main yaah.." :') I do agree that a child is an angel as true.


Hingga, tralalaaa....! Kamarnya Nawla jadi lebih legaaa..! Senangnyaaa.. Nawla juga senang.
Dan gak cuma itu, Nawla juga cerita ke temen-temennya (dan dibantu ibunya menglobi ibu-ibu temannya) tentang donasi mainan buku ini. Banyak sekali yang tertarik untuk me-legakan kamarnya ternyata! hahaha... Dan terkumpullah lima kantong besar mainan dan buku juga ada beberapa gaun anak-anak yang lucu-lucu. Tinggal ibunya bingung, begimana ini bawa ke FX?? Waktu itu ada event buka barengnya Female Daily di FX sekalian pengumpulan donasi ini. Maka berangkatlah kami berdua (saya dan Nawla) ngegondol lima kantong gede (mirip sinterklas dan piet item jadinya, haha!) nyari taksi buat ke FX. Lumayan jauh juga tuh nyari2 taksi yang emang jam-nya langka menjelang sore begitu.. Tapi liat Nawla yang semangat, saya yang ngos-ngosan sambil puasa jadi ikut semangat juga. 

Sampe di FX (setelah rada heboh naek dari lobby ke lantai paling atas), Nawla sendiri yang nyodorin kantong-kantong itu ke mba-mba di meja penerima tamu. Dia senyum malu-malu waktu mba-mba itu bilang terima kasih. Pas dapet goodie bagnya Tango, dia girang banget. "Wah, langsung dibales sama Allah ya Bu. Nawla kasih mainan malah dikasih tango banyak banget!" Haha, bisa aja doi!

Sambil acara buka bareng, ada sharing tentang kegiatan  Hand in Hand ini juga bareng Mba Lita dan perwakilan Tango Wafer. Diputerin video anak-anak Nias. Nawla nonton dengan takjub. Saya bilang sama dia, itu temen-temen yang nanti akan terima mainan Nawla dan kawan-kawan dari Jakarta. Nawla cuma senyum tipis sambil terus liat videonya. Mungkin dalam hati dia nyesel, kenapa gak kasih lebih banyak. Hehehe.. 

Ketika selesai, dan kita keluar dari tempat acara, pas lewatin meja penerima tamu, Nawla liat mainan-mainannya masih di situ. Dia samperin, dan dia belai boneka Eko Gede (itu namanya, boneka beruang oranye gede), "Hati-hati ya Eko Gede. Main yang baik yah.." :')

Dan saya pulang dengan hati yang penuh. Its not about how much we give. Its about how much we care. Dari Nawla dan teman-temannya yang menyumbangkan mainan, saya justru belajar banyak tentang arti berbagi yang sebenarnya.

Terima kasih Mommies Daily dan Wafer Tango telah membantu Nawla dan teman-teman mengirim mainan ke teman-teman di Nias, semoga berrmanfaat :)

Wednesday, August 14, 2013

Menulis Novel (part 3)

Part 1-nya bisa dilihat di sini http://duniapipit.blogspot.com/2012/11/menulis-novel.html
dan Part 2-nya bisa dilihat di sono http://duniapipit.blogspot.com/2013/01/menulis-novel-part-2.html
Dan inilah Novel-nya!
Alhamdulillah...!
Seneng. Banget!
Terharu...

Bukan sekedar bahwa novel ini akhirnya (saya beranikan) publish, tapi ternyata saya bisa menyelesaikannya. Tidak ada kelegaan yang begitu melegakan ketika kita sanggup menyelesaikan target dari diri kita sendiri.

Banyak penulis bilang, sebuah karya itu gak ada bedanya dengan seorang anak. Seperti melahirkan seorang bayi. Soo priceless. Bener banget. Terutama karena novel ini begitu personal buat saya.

Novel ini awalnya memang saya niatkan untuk dipublish. Setelah novel ini rampung, sekitar awal Februari lalu,saya langsung masukan ke sebuah penerbit besar. Dan ditolak. Yah, bahasa halusnya sih, belum difollow up (tau kapan deh follow up-nye!). Jujur, saya sempat down. Dan berfikir bahwa saya tidak berbakat nulis novel dan ini bukan jalan hidup yang layak buat saya. Lalu membuat saya frustasi karena menganggap saya perlu mencari jalan hidup yang lain, sementara saya kadung mencintai menulis sebagai pekerjaan. Ya, yaa... cemen banget emang, baru sekali ditolak udah memble. Padahal dalam hati berkali-kali menghibur diri, "Aaah.. JK Rowling juga sempet ditolak kaliii...!" tapi, kecewa tak dapat terobati begitu saja.. Hingga suatu hari, tanpa sengaja, saya iseng ikutan sebuah acara buka bareng. Dan ketemu dengan Ollie (@Salsabeela), foundernya NulisBuku.com. Sebelumnya memang sempat terpikir untuk self publisihing novel ini. Tapi hati terlanjur kecewa.. (taelah!). Dari Ollie-lah saya dapet semangat lagi untuk kembali memperjuangkan novel ini. Olli banyak kasih masukan gimana caranya ngadepin penerbit. Sepanjang acara kita ngobrol panjang (sampe gak ngeh sama talkshow yang lagi berlangsung). Pulang dari sana, saya mikir banyak. Berkali-kali ngelamun, sampe kemudian besok lusanya tiba-tiba saya dapet ide untuk self publishing novel ini lewat NulisBuku.com. Bukan semata agar buku ini publish, bukan! Niat besarrnya adalah, saya ingin ngasih kado spesial untuk saya dan Nawla yang kebetulan ultah di bulan Agustus ini. So many things happened in 30 years of my life, and i think i have to give a little gift to my self. Dan saya tahu, ini akan jadi hadiah yang luar biasa bagi diri saya pribadi. Ini bukan hanya draft yang berubah bentuk menjadi novel beneran, tapi ini adalah.. semacam pembuktian diri, pada diri saya sendiri. Bahwa saya harus melangkah dengan lebih berani. Seistimewa itulah novel ini buat saya. Dan saya berharap, kelak untuk Nawla juga. Kalo teman-teman sempat membaca novel ini (sempetin yak! beli yaak! heuheue.. *mulai promo*), pasti akan ngerti kenapa saya dedikasikan ini buat Nawla.

Well, after all these.. what's next? Yang pasti, saya jauh lebih bersemangat lagi untuk menulis. Novel ini berbarengan dengan buku pertama Nawla yang kami buat bersama. Buku itu bahkan jadi lebih dulu. Akan saya posting di halaman lain soal bukunya Nawla ini. Seru banget deh, kami berdua meluncurkan karya bersama, di hari ulang tahun yang cuma beda sehari. My greatest partner emang, dia itu. Nawla.. She's 5 years old now! How time flies... *hug my baby*

Dan, apa lagi yang bisa saya katakan tentang novel ini?
Well, sesungguhnya menulis novel itu gak susah.. (ciee.. sombong!) Haha! eh, serius.. yang susah itu kalo kita gak percaya diri untuk menyelesaikannya dan gak cukup kuat (hati) menampung inspirasi yang sebetulnya bertebaran kayak kuman disekitar kita. Pengalaman saya menulis novel ini tuh seperti, semua adegan udah didepan mata, kita tinggal menuliskannya aja. Paling mikir dikit soal pemilihan diksi.. selebihnya beneran seperti mindahin apa yang kita lihat di sebuah dimensi (yang entah dimensi apa itu) ke dalam dimensi tulisan. Itu aja. Tapi perjalanannya bisa sangat terjal dan tersendat ketika hati dan pikiran kita gak jernih, beneran deh. saya ngerasa begitu. Penulis-penulis lain, begitu juga gak sih? Makanya di postingan saya sebelumnya saya sempat bilang, nulis novel ini kok rasanya spritual abis ya? bukan karena novelnya spritual,  tapi pengalaman menulisnya.. rada serem sih, tapi seru! hehe.. Dan.. saya gak sabar untuk nulis novel selanjutnya. Adegannya sedang dibangun di kepala saya. Tinggal nunggu semua adegan lengkap, kemudian saya akan mindahin semuanya ke dalam tulisan lagi. Semoga saya punya hati dan pikiran yang cukup jernih untuk semua itu.

Selamat membaca, bila ada yang bisa saya berikan dari novel itu, saya harap itu bisa menjadi kado dari saya untuk teman-teman semua.

:)