Tuesday, December 14, 2010

Menyapih

jeng,jeng.. judulnya emak-emak banget yah?

akhirnya, sampai juga pada keyakinan untuk menyapih Nawla.
Sebenernya udah terpikirkan sejak NAwla 2 tahun, tapi masih ragu2, kasian, karena Nawla nyusunya mash kenceng. Saya berprinsip untuk menyapih dengan kasih (weaning with love) artinya, meminimalisir pengalaman tidak baik saat penyapihan. Udah cape2 ngabangun bonding yang luar bisa anatar Ibu dan anka selama 2 tahun lebih, masa harus cacat karena proses penyapihan yang kurang mulus.

Ada yang mengusulkan di pisah beberapa hari antara Ibu dan anak, weits.. saya paling ogah dengan saran itu. Itu sih nyiksa namanya..

Ada yang menyarankan kasih yang pahit2, hmm.. pernah saya coba, kasih kopi pahit, dan suskses Nawla gak mau nyusu, tapi itu sementara, dia ttp minta, masa saya harus ngolesin kopi setiap saat, repot juga.. dan akhirnya Nawla bahkan tidak peduli pada rasa phit itu, ttp aja nyusu!

pernah juga kasih yang bau2 kayak minyak tawon ato kayuputih, tetep gak bikin NAwla kapok nyusu.. malah dia makin jag ngakalin.

Bagaimana yaa..?
Doa aja deh.. hehe

Monday, September 27, 2010

Ke Negeri Seberang

Ku dengar ia tengah ada di sebuah negeri nun jauh
Ku kira ia tengah di pondok mungilnya di tepi sungai
Rupanya tidak, ia terbang lagi, seperti yang pernah ia lakukan
Namun kali ini ia berjanji tidak lama akan kembali pulang
ke pondok mungilnya, ke tepi sungainya

Ia terbang ke negeri seberang, katanya untuk belajar menulis
Bukan untuk menuntaskan dahaganya ttg Newton, Einstein, ataupun Adam Smith
Apa yang tengah ia perbuat?
Aku bertanya-tanya, heran dibuatnya

Kau sudah pandai menulis,kawan... sangat pandai bahkan.
Mengapa kau harus belajar menulis ke negeri asing itu?
Bukankah kau bilang tanahmulah harta karun inspirasi itu?
tanahmulah pembuka seluruh lakon tulisanmu?
Apa yang akan kau pelajari di negeri asing itu?
Apa ilmunya bisa kau pakai untuk lebih mengenal tanah inspirasimu?

Kau berharap,sepulang dari sana kau bisa menulis lebih baik
Kawan, aku membutuhkan isi hatimu, bukan teknik menulismu
Ku harap kau dapat pelajaran soal hati, soal menulis dengan hati
itu lebih baik, sangat lebih baik kawanku

Ah, tau apalah aku ini
Soal tulis menulis, butalah aku ini
Tentu kau berjuta lebih mengerti ketimbang aku
Toh, karena kau berkelanan ribuan hari di negeri baratlah
Kau bisa mengeluarkan isi hatimu dan mempersembahkannya bagi kami
yah, semoga petualanganmu saat ini juga memberi energi baru
untuk menggali lebih dalam tanah harta karun inspirasimu

semoga kau lekas pulang, lekas menemui sungaimu
lekas kembali ke pondok mungilmu dan mulailah menyusun kata demi kata harta karun itu
Aku menunggumu, kawan, selalu menunggumu
bagiku kini, menunggumu menjadi bagian yang menyenangkan dalam hidup


*juga, untuk pelayan warung kopi yang kini tengah belajar menulis di negeri bernama Amerika

Seorang Kawan

Darinya aku mendapat sapaan hangat,
"Kawan..", begitu selalu di ujung kalimatnya.
Lantas dunia seperti berubah menjadi sendu,
Pelangi seperti terurai warnanya,
bergantian, mewarnai jiwaku.

Kusadari, betapa hati ini rindu, pada sapa itu.
"kawan.." Ah, indah nian.
Seperti akhirnya ku menemukannya, setelah panjang penantian.
Dia yang yang menyapaku kawan, akhirnya hadir.

"Kawan.." di ujung kalimatnya seperti mantra sihir,
menyihirku memasuki dunia kalimat demi kalimatnya...
Terbuai dengan elok bahasanya, dengan kisah-kisah ajaibnya.

aku merasa seperti Alice, yang mengikuti sang kelinci hingga ke Wonderland.
dan memang akhirnya sampai aku ke wonderland,
oh..tidak, ini lebih menakjubkan!

Dunianya sederhana, tapi punya berjuta cerita.
disana kita tertawa, terbahak, tersenyum, tersipu...
di sana kita seperti ribuan kali jatuh cinta...
bahagia... itu saja yang ada.

Dia ada, dia nyata... seseorang yang menyapaku kawan.
Terima kasih telah ada, kawan.



*untuk seorang pelayan warung kopi berambut ikal.

Sunday, September 26, 2010

Menulis

Dulu, waktu saya SD, kalo ditanya cita2, saya selalu bingung... yang saya pahami (waktu itu) adalah kita semestinya bercita2 sesuai dengan pelajaran yang kita kuasai di sekolah. Misal,kalo jagoan matematika berarti bisa jadi guru matematik, pengusaha, ahli keuangan, atau mentri ekonomi. Kalo jago IPS, bisa jadi Lurah, Camat,Bupati, bahkan sekjen PBB (maklum anak SD,masih cetek pikirannya). Kalo jago olah raga, ya jadi atlit. Kalo jago IPA, jadi ilmuwan, dokter, astronot, ato kepala sekolah (dulu kepseknya merangkap guru IPA). Nah,kalo jago pelajaran agama, pasti jadi Da'i. Dan saya, saya menganggap saya agak lumayan di bahasa Indonesia,tapi bagian mengarangnya doang.Paling kecil saya dapet nilai 7 buat mengarang (emang ada ya mengarang dapet 6??).Itu yang saya tau.. yang saya tidak tau (pada waktu itu) adalah, mau jadi apa ya kalo jago mengarang,itupun gak jago sebenernya,lumayanlah.

Padahal eh padahaal...kenyataannya banyak yang bisa jadi profesi bagi seorang pengarang ulung! andai saya dulu tau... jadi PENULIS. Profesi yang tidak pernah saya dengar ketika saya SD di kampung nun terbelakang kala itu (yang kalo pengen pipis,kita bisa pilih mau di bawah pohon apa.. terbelakang banget kan?). Gak pernah saya bercita2 jadi penulis. Bahkan terpikir nanti gede bakal nulis apa juga gak pernah.

Barulah, ketika kuliah... saya tau,bahwa menulis adalah sebuah profesi, bahkan lebih dari itu saya memahami bahwa menulis itu adalah sebuah aktualisasi diri. Menulis adalah kunci, bagi dunia untuk menjangkau diri kita. Untuk bisa menjadi sarjana, saya harus menulis lebih dari 80 halaman skripsi, dan skripsi itulah manuskrip pertama saya bagi dunia. Bagian dari mushaf sejarah hidup kita.

Ada jaman prasejarah dan sejarah. kalo gak salah, seingat saya yang memebedakan 2 jaman itu adalah adanya peninggalan yang dianggap "tulisan". Jadi jaman sejarah ditandai oleh munculnya peninggalan semacam prasasti yang menggambarkan kondisi dunia kala itu. Disitulah sejarah dimulai.

Maka untuk saya sekarang, menulis adalah merangkai sejarah. Bukan tentang sejarah biofisik diri saya semata, tapi untuk ikut menulis tentang dunia. Dunia saat ini, saat kita berpijak,hidup,eksis,dan menjadi seseorang.

Tulisan kita,tentang apapun di dunia ini, akan menjadi indera masa depan tentang jaman ini. Lebih dari sekedar sejarah, tulisan kita kelak, mungkin (semoga), akan menjadi inspirasi untuk membangun peradaban yang lebih baik dari hari ini.

Maka,menulislah, siapapun kita, apapun yang kita tau, dimanapun kita, sepanjang yang kita yakini untuk ditulis itu bisa bermanfaat,tulislah. Meski tak ada yang membaca, tulisan kita bisa menjadi cerminan bagi diri sendiri, kadang bahkan, kita bisa terkejut oleh tulisan kita. Coba aja ;)

Wednesday, April 15, 2009

stuck in the moment

begitulah yang saya rasakan saat ini.
stuck.

pada sebuah moment panjang dalam rangka menjalani takdir sebagai wanita.

stuck ini sebetulnya tidak perlu ada. ini menjadi persoalan bila sangat terasa hadir mewarnai hari-hari saya.

rasanya waktu berjalan lambaat sekali,persis di video klip U@ untuk judul lagu yang sama. semuanya terasa slow motion... sepertinya semua memang diciptakan untuk menjadi sesutu yang bisa dinikmati perlahan. mungkin saja. karena banyakorangyang merasa sedih dan terkenang bila moment ini telah berlalu. moment menjadi ibu baru.

damn, i miss many things!
jalanan, udara malam, kebebasan, kesendirian...rindu berlari mengejar mimpi!!
ouuwhh...!!! ini seharusnya gak boleh terjadi!

i love u my nawla... surely! apa yang yang terasa semoga hilang saat matahari terbit besok. seiring dengan bertambahnya keikhlasan hati untuk hidup dalam hidup yang ada saat ini...

Tuesday, February 3, 2009

Punya anak = Jadi presiden

Banyak orang ingin jadi presiden (apalagi di negara kita). Jadi presiden t uh seneng, kemana-mana di anter mobil enak, gak pernah kena macet, hidup terjamin jiwa raga, bisa keliling dunia, di hormati, berkuasa dan sejuta kesenangan lainnya.

Banyak orang melihat “keuntungan” jadi presiden dengan mata jeli, tapi terkadang lupa (atau pura-pura tidak tahu) kesulitan apa yang menghadang di depannya.

Mengurusi jutaan manusia (sekali lagi, apalagi di Indonesia) jelas bukan hal gampang, apalagi menyenangkan. Cenderung menyeramkan malah. Tanggung jawab yang begitu besar rasanya tak sebanding dengan segala fasilitas kenyaman yang ditawarkan…

Itu menurut saya.

Tapi banyak sekali yang ingin jadi presiden, yup, apalagi di tanah air kita tercinta ini. Entah akan ada berapa pasang maju di 2009 ini, namun fenomena 2004 dengan lima pasang calon presiden-wapres adalah luar biasa. Lebih dari itu untuk tahun ini, mungkinkah? Bila ya, Negara ini memang sungguh luar biasa!

Dan bila saya (sangat bila), mendapat kesempatan untuk ikut mencalonkan diri jadi presiden, akankah saya mau? Hmm… Presiden Indonesia, heh? Jujur, saya tidak mau. Bukan semata karena saya secara pribadi (saat ini) masing sangat jauh dari predikat qualified sbg capres, juga bukan saya tidak mampu membayangkan diri saya berada di mobil anti peluru yang setiap detik hidup saya di atur protokoler, bukan.. bukan itu. Seperti yang saya bilang tadi, Sob… jadi presiden itu menyeramkan, sekali lagi, apalagi di negeri ini. Saya tidak habis pikir kenapa banyak yang mau…

Dan, hubungannya dengan punya anak?

Its so related, sob…! Sama-sama sesuatu yang menyenangkan, tapi ada tanggung jawab besar yang “agak menyeramkan” didepan sana. Entahlah, mana yang lebih berat, punya anak atau jadi presiden? Hal ini bisa ditanyakan pada presiden di hampir seluruh Negara, karena mereka rata-rata sudah punya anak. Tapi bagi saya, sepertinya sama beratnya.

Dan bila saya tidak mau jadi presiden, mungkinkah saya juga tidak bersedia punya anak. Disinilah perbedaannya. Saya sudah jadi ibu sekarang, dan karena jadi Ibulah saya bisa bilang bahwa punya anak itu sama beratnya dengan jadi presiden. Saya mungkin tidak adil membuat pernyataan ini, karena saya belum pernah merasakan jadi presiden. Owh, please.. jangan buat saya merasakan hal itu. Membayangkannya saja sudah mengerikan… saya hanya tahu itu berat, cukup tahu saja. Mencobanya, No, thank u!

So, bila saya menolak jadi presiden, mungkinkah saya berencana punya anak kedua? Saya sedang belajar dari pengalaman, salah satu pembelajaran saya adalah sampai pada kesimpulan yang saya uraikan panjang di atas tadi. Tugas berat, sob… punya anak itu tugas berat sekali, apalagi bila anak itu kelak jadi presiden, apalagi jadi presiden di Negara ini, apalagi Negara ini belum ada perubahan ke arah yang lebih baik beberapa dekade mendatang… berat, sobat… ! berat...

Wednesday, January 21, 2009

www.fitriahdwiastuti.blogspot.com

Saya punya blog ketika kuliah, lebih tepatnya di akhir-akhir masa kuliah. ketika sedang skripsi. waktu dimana keinginan menulis yang lain-lain selain skripsi begitu tinggi. Setelah sekian lama, saya coba mau mengaktifkannya lagi, tapi saya lupa passwordnya, jadi ya .. buat baru lagi deh!

Tapi blog saya ini masih bisa dibuka, terkadang saya buka. Lucu, maksud saya, saya merasa lucu, seperti bercermin, tapi dengan proyeksi diri yang agak berbeda. Blog ini, adalah saya di hampir 3 tahun yang lalu. begitu terasa berbeda. Tapi membukanya, membuat saya mengingat tentang keinginan-keinginan saya di masa lalu, yang seharusnya bisa saya capai sekarang, namun ternyata belum. Ada semangat yang mengalir lagi.

Yah, itulah pentingnya kenangan... bercermin pada masa lalu untuk mengingatkan kita akan apa yang seharusnya kita capai hari ini.